PALANGKA RAYA – Pagi baru saja naik di langit Palangka Raya, ketika deretan mobil dinas berhenti satu per satu di halaman Kantor Gubernur Kalimantan Tengah, Sabtu, 10 Mei 2025.
Langit tampak cerah, dan udara terasa lebih ringan dari biasanya. Di Ruang Rapat Bajakah, para kepala dinas dan pejabat sibuk menyesuaikan berkas, membenahi presentasi, dan mempersiapkan catatan.
Di tengah ruangan, Leonard S. Ampung, Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah, duduk tegak, membuka pertemuan yang sejak beberapa pekan terakhir menjadi agenda utama Pemerintah Provinsi.
Hari itu bukan rapat biasa. Di dalam ruangan itu, para pemangku kebijakan merajut satu per satu elemen peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Kalimantan Tengah.
Tak sekadar selebrasi, perayaan tahun ini digagas sebagai etalase kebudayaan dan ekonomi daerah, panggung kolosal yang hendak menampilkan jati diri Kalimantan Tengah kepada dunia luar.
“Ini bukan hanya milik pemerintah. Tapi milik masyarakat. Harus jadi kebanggaan bersama,” ujar Leonard dalam pembukaannya.
Sorotan utama tertuju pada Festival Budaya Isen Mulang (FBIM), sebuah agenda tahunan yang telah menjadi nadi budaya Kalteng. Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Seniriaty, tampak tenang saat memaparkan progres persiapan.
Dengan suara yang terukur, ia menyampaikan bahwa seluruh elemen teknis sudah pada jalurnya, meski menyisakan ruang untuk perubahan mendadak. “Kami sudah biasa menghadapi dinamika di lapangan,” ujarnya sambil tersenyum.
Menurut data panitia, sebanyak 45 peserta pawai budaya telah terdaftar, terdiri dari sebelas kabupaten/kota, dua puluh lima OPD, dan sembilan kelompok masyarakat umum.
Mereka akan tampil memeriahkan pawai yang dirancang tak hanya sebagai parade, tapi sebagai narasi visual sejarah dan identitas Kalteng.
Di sela-sela rapat, beberapa kepala dinas bahkan membahas rencana koreografi dan kostum, seakan turut larut dalam semangat festival.
Di luar ruang rapat, tangan-tangan teknis tengah bekerja. El Production, event organizer yang digandeng pemprov, mempersiapkan konsep dekorasi dengan pendekatan unik.
Nuansa etnik Kalimantan Tengah, dengan motif Dayak dan simbol alam tropis, akan digabungkan dengan pencahayaan LED dan tata panggung tiga dimensi.
Lokasi utama di Stadion Tuah Pahoe sedang disulap menjadi ruang budaya terbuka, tempat tarian, musik, dan pertunjukan akan berpadu dalam atmosfer perayaan.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Norhani, memaparkan gelaran Kalteng Expo 2025. Tak hanya memamerkan produk daerah, expo tahun ini membawa ambisi lebih besar: menyambungkan pelaku usaha, akademisi, dan investor melalui Job Fair dan sesi Business Matching.
Sebanyak 214 peserta dari berbagai sektor sudah terdaftar, menjadikan expo ini sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah penyelenggaraannya.
“Ini bukan sekadar jualan, tapi platform untuk menciptakan koneksi. Kalau berhasil, dampaknya bisa jauh ke depan,” kata Norhani.
Bagi warga, Hari Jadi ke-68 bukan sekadar momentum administratif. Ia adalah pesta kolektif, tempat sejarah dan harapan bertemu, menari bersama di bawah langit Palangka Raya.
(Sya'ban)












