KEGELAPAN mulai menggerogoti pesona kawasan kuliner PJU Nur Mentaya di Sampit. Tiga malam tanpa penerangan membuat suasana yang biasanya terang dan ramai berubah menjadi gelap dan penuh bayang.
Namun di tengah gelap itu, geliat malam tak sepenuhnya padam, masyarakat tetap nongkrong, pedagang masih bertahan, dan harapan agar lampu segera menyala kembali terus menyala di hati mereka.
Ahmad Winardi SE, Sampit
SABTU malam 10 Mei 2025, Malam Minggu di kawasan kuliner Nur Mentaya Sampit Kotawaringin Timur (Kotim) biasanya hangat oleh cahaya lampu jalan dan ramai tawa pengunjung, namun malam ini berbeda. Gelap menyelimuti sepanjang jalan dari Bundaran Tjilik Riwut Desmon Ali hingga Puskesmas Baamang II. Lampu-lampu penerangan jalan umum (PJU) yang biasanya berjajar terang, kini sudah tiga malam padam dan tak kunjung diperbaiki.
Di tengah kegelapan itu, kehidupan tetap berdenyut. Sejumlah masyarakat masih bertahan di trotoar menikmati apa yang ditawarkan warung kaki lima. Lampu dari lapak warung pinggir jalan menjadi satu-satunya sumber cahaya yang menerangi remang-remang piring dan gelas mereka.
Tawa masih terdengar, tapi tak lagi terlihat jelas dari mana asalnya. Hanya siluet tubuh dan percakapan samar yang menandai kehadiran mereka.
Sesekali, cahaya lampu motor yang melintas menyapu gelap malam, menyinari wajah-wajah yang sedang menikmati kudapan ringan atau sekadar bercengkerama.
Sebagian pengunjung bahkan mengandalkan senter dari ponsel mereka agar bisa melihat makanan yang mereka santap. Pemandangan yang tak biasa, karena sudah tiga hari PJU ini padam namun belum juga ada perbaikan.
“Semoga ini bisa diperbaiki, soalnya sudah tiga hari kayak gini,” keluh Nisa, salah satu pedagang di kawasan tersebut. Ia mengaku omzetnya turun karena banyak pengunjung enggan datang saat suasana terlalu gelap dan memilih lokasi lainnya yang masih menyala.
Lampu-lampu jalan yang padam seolah menciptakan jarak antara kawasan kuliner dan pengunjungnya. Di satu sisi, geliat malam tetap bertahan, tapi di sisi lain, kenyamanan dan keamanan menjadi pertaruhan. Kawasan yang dulu menjadi favorit masyarakat untuk nongkrong, kini seperti mulai dilupakan. Bukan oleh pengunjung, tapi oleh penerangnya sendiri.
Harapan pun menggantung pada pihak berwenang, agar segera memperbaiki kerusakan. Karena Nur Mentaya bukan sekadar kawasan kuliner. Ia adalah denyut malam Kota Sampit, tempat bertemunya rasa, cerita, dan cahaya yang kini meredup.
Sejak diresmikan pada akhir 2022 lalu, kawasan PJU Nur Mentaya menjelma menjadi salah satu pilihan utama masyarakat Sampit untuk menghabiskan malam.
Tempat ini bukan hanya soal makan dan minum, tapi juga tentang suasana, cahaya, dan kebersamaan. Namun, kini muncul pertanyaan yang menggantung di udara malam, apakah Nur Mentaya mulai dilupakan? Apakah kegelapan akan menjadi wajah barunya di masa mendatang?
Semakin malam, perlahan pengunjung mulai beranjak dari tempat duduk mereka. Ada yang meninggalkan meja dengan senyum tipis, ada pula yang masih bertahan, menikmati malam di bawah taburan bintang. Kegelapan tidak menghapus sepenuhnya semangat mereka, tapi tetap menjadi catatan penting bagi kenyamanan.
Hingga larut malam, kawasan itu mulai sepi. Denting sendok di gelas teh manis terakhir menjadi penutup dari riuh yang sempat ada. Pedagang-pedagang mulai membereskan dagangannya, bersiap untuk pulang. Dan Nur Mentaya, dengan cahaya seadanya, bersiap menyambut pagi Minggu yang mungkin lebih cerah—jika saja lampu-lampu kembali menyala. (Bersambung)












