Oleh: Wira Prakasa Nurdia
BEBERAPA hari yang lalu, saya melihat antrean panjang di beberapa SPBU di Sampit. Ada yang mengular hampir ke jalan besar, ada pula yang hanya menjual Dexlite karena stok keburu habis. Saya tanya ke petugas, katanya suplai belum datang dan ia tidak menjelaskan kapan situasi akan normal kembali.
Yang bikin miris, kita warga biasa yang cuma mau isi bensin motor buat bekerja atau sekadar jalan-jalan, harus ikut antre lama atau tidak kebagian. Bahkan kadang berkendara di jalan dengan perasaan was-was takut mogok dan mau tidak mau harus mengisi di eceran dengan harga beli yang lebih mahal. Semua ini terjadi bahkan sebelum harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik dan itu baru karena ulah pengecer, sebagaimana liputan Berita Sampit tempo hari.
Sekarang coba bayangkan kalau dunia sedang dalam krisis. Seperti yang terjadi baru-baru ini, saat saya menonton berita di YouTube, di mana Iran meluncurkan ratusan rudal ke Israel, lalu dibalas lagi dengan serangan drone. Konflik dua negara besar yang letaknya jauh dari kota Sampit, namun punya pengaruh besar pada harga minyak dunia.
Iran bukan negara kecil. Mereka salah satu produsen minyak utama dunia. Jalur distribusi minyak mereka dilewati oleh jutaan barel per-hari lewat Selat Hormuz. Kalau jalur itu terganggu karena perang, pasar global akan menjerit. Lalu harga minyak mentah bisa melonjak drastis. Dan ketika harga minyak mentah naik, kita yang di Sampit pun pasti ikut terdampak karenanya.
Bisa saja sebagai awam kita mungkin berpikir, konflik di Timur Tengah tidak ada hubungannya dengan kita. Tapi sekarang, coba kita refleksikan ulang, saat belum perang saja BBM bisa langka karena pengecer dan distribusi yang tak rapi. Lalu bagaimana jika suplai tercekat gara-gara perang? Saya lantas berpikir, bagaimana kalau pemerintah harus membatasi pasokan karena harga impor naik? Bagaimana kalau subsidi tak mampu mengcover dan harga BBM harus disesuaikan?
Efeknya begitu berantai:Â
Harga BBM naik, ongkos angkut barang pun ikut naik. Misalnya, distribusi sayur dan sembako dari daerah penyuplai pasti akan meningkat dari harga biasa.
Harga-harga di pasar Sampit kemudian akan menyesuaikan dan lagi-lagi masyarakat kecil yang paling kena imbasnya.
Kita di sini mungkin tidak akan dengar suara rudal jatuh atau tertimpa reruntuhan puing-puing gedung yang berhamburan. Tapi kita akan dengar keluhan di pasar, antrean motor di SPBU, dan dompet yang makin terkuras. Konflik itu kemudian nyata adanya dan hadir dalam kecemasan harian kita.
Tentu saya tidak sedang membuat orang khawatir berlebihan. Saya juga bukan ahli. Saya cuma warga biasa yang belakangan ini mulai merasa khawatir, karena hal-hal yang terjadi jauh di luar sana bisa berdampak nyata ke kita.
Kalau sekarang saja SPBU bisa kosong karena ulah pengecer, bagaimana nanti kalau perang betul-betul membuat pasokan terganggu atau harga BBM naik tajam? Saya tentu tidak tahu jawabannya. Tapi mungkin ini saatnya kita mulai lebih peka, lebih siap, dan saling mengingatkan, bukan karena kita hebat, tapi karena kita sama-sama rentan.
Mungkin kita tidak bisa ikut campur dalam konflik di Timur Tengah sana. Tapi kalau antrean di SPBU makin panjang, pasokan tersendat, dan harga kebutuhan pokok perlahan naik, maka dampak dari konflik itu nyata juga kita rasakan. Ia tidak datang dalam bentuk ledakan, tapi lewat kelangkaan dan kecemasan kecil dalam keseharian kita.
Dalam dunia yang saling terhubung seperti sekarang, peperangan bisa menjalar ke kota-kota kecil seperti Sampit, bukan lewat serbuan rudal, tetapi lewat harga yang merangkak naik dan ketidakpastian itu sendiri. Ketidakpastian itu bukan karena kita terlibat perang, tapi karena kita bagian dari sistem yang rapuh.












