Kisah Perjuangan Transmigran UPT Kandan, Desa Kandan, Kotawaringin Timur
DI hamparan lahan yang dahulu berupa semak dan gambut, kini kembali berdiri rapi ribuan tiang penyangga buah naga. Warna merah menyala itu bukan hanya hasil panen ia adalah simbol ketahanan 350 kepala keluarga transmigran yang datang bertahap pada 2008, 2009, dan 2010 ke UPT Kandan, Desa Kandan, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur.
Sekitar 50 persen berasal dari Jawa Tengah, Lampung, dan Jawa Barat. Sisanya warga lokal yang ikut dalam program pemerataan sosial.
Mereka memulai hidup dari nol. Dan buah naga menjadi salah satu sandaran harapan. Setelah jatuh bangun selama sepuluh tahun akhirnya mereka menemukan tanaman yang adaptif terhadap tanah gambut dialah buah naga.
Panen Raya dan Masa Optimisme Menjadi Desa Agrowisata
Momentum penting terjadi pada 12 Maret 2020 saat panen raya buah naga dihadiri Bupati Kotawaringin Timur saat itu, H. Supian Hadi. Produksi mencapai sekitar 2,8 ton per hektare dan bisa dua kali panen dalam sebulan.
Luas tanam berkembang hingga lebih dari 50 hektare. UPT Kandan mulai dikenal sebagai sentra buah naga.
Camat Kota Besi, Ninuk Muji Rahayu, saat itu menyampaikan bahwa kawasan tersebut berpotensi menjadi agrowisata berbasis hortikultura karena hamparan kebunnya yang luas serta dukungan kelompok tani dan kelompok wanita tani dalam mengolah produk turunan.
Harapan itu sempat terasa sangat dekat. Mewujudkan impian menjadi desa Agrowisata Buah Naga dan Hortikultura.
Tahun 2022–2023: Serangan Cacar Batang dan Buah
Namun pada 2022 hingga akhir 2023, serangan penyakit cacar batang melanda. Penyakit ini merusak batang tanaman, kemudian menjalar ke buah.
Sekitar 70 persen tanaman tidak lagi produktif. Produksi anjlok drastis. Harga jatuh di titik terendah. Bahkan sempat terjadi kondisi buah tidak laku dan terbuang.
Banyak warga mencabut tanaman dan menggantinya dengan komoditas lain seperti kelapa sawit yang dianggap lebih stabil. Desa yang dulu merah oleh buah naga sempat kehilangan warnanya.
Bangkit Kembali di 2024
Sebagian petani tidak menyerah. Mereka mencari solusi, mencoba berbagai cara penanggulangan, menemukan metode perawatan dan pengendalian penyakit yang lebih tepat.
Memasuki awal 2024, semangat kembali tumbuh. Warga mulai menanam lagi di pekarangan rumah dan kebun yang lebih luas.
Sejak 2025, tonase panen perlahan kembali normal seperti masa sebelum serangan penyakit. Bahkan terus bertambah seiring semakin banyak warga kembali menanam.
Kini hampir setiap pekarangan rumah kembali ditumbuhi buah naga. Bahkan di sebagian jalan desa, tanaman ini membentuk taman eksotis yang menjadi identitas kampung.
Sertifikat PRIMA-3 Tahun 2022: Jaminan Layak Konsumsi
Pada tahun 2022, buah naga Desa Kandan memperoleh Sertifikat PRIMA-3 dari Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKP-D) Provinsi Kalimantan Tengah.
Sertifikat PRIMA-3 merupakan pengakuan resmi bahwa produk hortikultura tersebut:
Diproduksi sesuai praktik budidaya yang baik (Good Agricultural Practices/GAP)
Aman dikonsumsi
Layak makan dan tidak membahayakan kesehatan
Bebas dari residu berbahaya di atas ambang batas yang ditentukan
Dengan sertifikasi ini, buah naga Desa Kandan tidak hanya unggul dari sisi produksi, tetapi juga terjamin mutunya. Hal ini meningkatkan kepercayaan pasar serta membuka peluang distribusi yang lebih luas.
Pengakuan tersebut menjadi bukti bahwa kawasan transmigrasi ini mampu menghasilkan produk pertanian yang sehat dan aman untuk masyarakat.
Prospek ke Depan: Tidak Hanya Dijual Segar
Pengalaman jatuhnya harga menjadi pelajaran penting. Ke depan, pemerintah daerah bersama masyarakat mulai mendorong langkah strategis agar buah naga tidak hanya dijual dalam bentuk segar.
Upaya yang mulai dirintis antara lain:
-Pengolahan menjadi jus, selai, sirup, dodol, dan produk turunan lainnya
-Penguatan UMKM berbasis hortikultura
-Pengembangan konsep agrowisata edukatif
-Pencarian pasar luar daerah
-Diversifikasi ini penting agar ketika panen melimpah, harga tidak kembali terpuruk.
Dari Keterpurukan ke Ketahanan
Kisah UPT Kandan adalah kisah tentang jatuh dan bangkit. Tentang penyakit yang memukul produksi, tentang harga yang sempat terjun bebas, dan tentang petani yang hampir menyerah. Namun mereka memilih mencoba lagi.
Kini warna merah buah naga kembali menjadi penanda kehidupan. Dari kawasan transmigrasi yang dibangun sejak 2008, dari ujian 2022–2023, mereka membuktikan satu hal:
Selama masih ada kemauan untuk menanam kembali, selalu ada musim panen yang menunggu di depan.
Penulis: Selamat Purwanto (Pegiat Desa, Agrobis, Pemerhati Sosial dan Budaya)











