Oleh: Nako, S.Kom.,S.H, Pemimpin Redaksi Berita Sampit
TERIAKAN masyarakat mereka luapkan dan bahkan isu ini menghiasi beranda media sosial, hingga di grup-grup WhatsApp. Kelangkaan elpiji subsidi 3 kilogram seakan jadi pukulan ditengah khusyuknya ibadah bulan suci Ramadhan.
Mungkin bagi mereka yang tidak tergantung dengan Elpiji ini bukan masalah, sebaliknya masyarakat yang sudah membutuhkan ini adalah persoalan besar, bahkan ironinya ada yang menjual hingga harga Rp40 ribu per tabung gas alias dua kali lipat dari harga biasanya dan masyarakat tetap harus beli karena ini salah satu kebutuhan dasar mereka meski harus menjerit.
Apa persoalan yang terjadi?, apakah dampak dari penyegelan lalu yang sengaja didramatisir hingga harus mengorbankan masyarakat banyak atau memang pemerintah daerah yang tidak mau turun tangan, tidak peduli dengan keluhan masyarakat.
Sidak Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kotawaringin Timur Senin 23 Pebruari 2026 lalu terlihat hanya seremonial saja, tidak ada pengaruh signifikan pasca itu. Meski sejumlah pangkalan mengaku sudah menerima pasokan elpiji pun jatah dikurangi.
Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kotawaringin Timur Johny Tangkere menyebut ini bukan kelangkaan.
“Kalau disebut langka berarti barangnya tidak ada. Ini barangnya ada, hanya ada keterlambatan karena kendala teknis. Jadi bukan unsur kesengajaan,” tegasnya.
Dinas memastikan mulai hari ini distribusi kembali berangsur normal dengan sembilan nozel yang sudah beroperasi. Kerusakan nozel tersebut juga telah dilaporkan ke Pertamina.
“Kami pastikan mulai hari ini distribusi sudah normal kembali. Kalau ada yang masih menjual mahal, segera laporkan. Kami akan ambil langkah sesuai aturan,” bebernya.
Namun sudah berapa hari kondisi ini juga belum normal. Sepertinya masyarakat tidak bisa berharap banyak dengan pemerintah, toh keluhan soal isi tabung gas sudah jadi persoalan lama mereka tidak pernah menemukan atau mengecek masalah di lapangan, justru terbongkar saat tim Polda Kalteng turun dan mendapati isi gas yang akan dijual ke masyarakat ternyata tidak sesuai takaran.
Mungkin bisa jadi ini sudah lama terjadi, namun sudah sulit untuk dibuktikan, atau sebaliknya sudah diketahui pemangku kepentingan sejak lama akan tetapi sengaja ditutupi!
“Pantasan selama ini gas yang dulunya bisa tahan untuk beberapa pekan tidak lagi, cepat habis,” seperti ini rata-rata lontaran masyarakat di media sosial saat menanggapi postingan Berita Sampit soal penyegelan SPBE PT Niaga Jaya Makmur di Desa Pelangsian, Kecamatan MB Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur belum lama ini.
Apakah ada oknum yang diuntungkan?, menurut saya ini isu yang memang harus dibongkar. Karena permainan ini akan terus terjadi jika tidak ada sanksi tegas, terlebih kabarnya Pertamina sendiri “lembek” hanya memberikan sanksi peringatan saja kepada pengurang takaran elpiji tersebut.
“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka meminta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi,” Surah Al-Muthaffifin ini yang hanya bisa dipanjatkan masyarakat yang terzolimi ditengah kesulitan ekonomi yang mereka hadapi saat ini.
Isu ini menurut saya sangat menarik, dan tidak sulit jika untuk dibongkar terlebih jika ini sudah lama dimainkan. Aparat penegak hukum sudah tahu cara bagaimana mengungkapnya.
Namun kembali lagi, apakah mereka akan turun tangan demi hak masyarakat atau hanya ikut menyaksikan drama ini dan lebih memilih mengungkap perkara kecil yang terpenting target pengungkapan perkara tercapai.
Kasus pengurangan takaran yang kini ditangani Polda Kalteng juga tengah dinanti masyarakat perkembangannya, harapan besar kasus ini bisa memberikan efek jera tidak hanya bagi SPBE tapi juga warning bagi agen atau pangkalan nakal yang kerap mengambil untung besar ditengah kesulitan masyarakat (***)












