SAMPIT – Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Irawati meminta aparat kepolisian menindaklanjuti dugaan kasus pemukulan terhadap Camat Mentaya Hilir Utara yang terjadi saat proses mediasi dengan warga Rabu 11 Maret 2026 lalu.
Irawati menegaskan bahwa camat merupakan bagian dari pemerintah yang bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat, sehingga dalam menghadapi persoalan di lapangan harus tetap bersabar dan mengedepankan penyelesaian secara baik.
“Terkait kasus pemukulan Camat Mentaya Hilir Utara kemarin, saya sampaikan bahwa camat itu termasuk dalam pelayanan kepada rakyat. Jadi harus sabar. Saya juga sampaikan kepada pak camat agar tidak terpancing emosi,” ujarnya, Kamis 12 Maret 2026.
Ia juga mengingatkan agar camat tidak ikut terpancing emosi atau melakukan tindakan balasan meskipun mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari warga.
“Saya bilang ke pak camat jangan ikut emosi, jangan sampai melakukan hal yang sama kepada warga yang melakukan kekerasan terhadap beliau,” tegasnya.
Menurut Irawati, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan aparat kepolisian agar kejadian tersebut segera ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Ia mengaku sempat berencana mendatangi lokasi kejadian, namun oleh pihak kepolisian diminta untuk tetap berada di tempat karena situasi sudah ditangani aparat setempat.
“Saya sudah memerintahkan ke Polsek agar segera ditindaklanjuti sesuai ketentuan. Kemarin juga saya sempat ingin ke sana, tapi oleh Kapolsek disampaikan cukup dari sini saja, kami yang backup di lapangan,” katanya.
Irawati menambahkan, setelah kejadian tersebut dirinya juga sempat berkomunikasi langsung dengan Camat Mentaya Hilir Utara untuk memastikan kondisi kesehatannya.
Menurutnya, kondisi camat saat itu dalam keadaan baik meskipun sempat mengalami insiden saat mediasi berlangsung.
“Kemarin saya juga langsung berbicara dengan pak camat. Kondisinya sehat, saya minta beliau tetap sabar, apalagi ini bulan puasa,” ungkapnya.
Ia berharap setiap persoalan yang terjadi di masyarakat dapat diselesaikan melalui musyawarah dengan baik tanpa harus berujung pada tindakan kekerasan.
“Kalau ada permasalahan kita selesaikan dengan musyawarah baik-baik. Jangan sampai terjadi hal-hal seperti itu, apalagi di bulan puasa yang memang kadang tensi bisa meningkat,” tandasnya.
Sebelumnya diberitakan, Camat Mentaya Hilir Utara, Zikrillah, diduga menjadi korban pemukulan oleh seorang warga saat berlangsungnya mediasi antara kelompok tani di Kantor Kecamatan Mentaya Hilir Utara pada Rabu 11 Maret 2026 sore.
Insiden tersebut terjadi ketika pemerintah kecamatan memfasilitasi musyawarah antara kelompok tani yang tergabung dalam Gapoktanhut Bagendang Raya. Namun pertemuan yang semula bertujuan mencari solusi atas konflik pengelolaan lahan justru berujung kericuhan.
Dalam video yang beredar di masyarakat, camat terlihat dalam kondisi lemas setelah insiden tersebut. Aparat keamanan dari unsur TNI dan Polri juga terlihat berada di lokasi untuk menenangkan situasi yang sempat memanas.
Informasi yang dihimpun menyebutkan keributan dipicu oleh tuntutan sebagian warga yang meminta camat segera mengesahkan kepengurusan baru Gapoktanhut. Namun permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena pengesahan kepengurusan bukan kewenangan langsung camat.
Usai kejadian itu, Zikrillah melaporkan insiden tersebut ke Polda Kalteng dan menjalani visum untuk kepentingan penyelidikan.
“Sempat dirontgen tadi, hasilnya aman. Tetapi dari pemeriksaan luar ada memar di bagian kepala,” ungkap Zikrillah. (Nardi)












