SAMPIT – Anggota DPR RI Komisi V dari Daerah Pemilihan Kalimantan Tengah Muhammad Syauqie menyoroti persoalan sedimentasi atau endapan di alur Sungai Mentaya Sampit yang selama ini menjadi perhatian karena berdampak pada aktivitas transportasi dan perekonomian daerah.
Menurut Syauqie, tingginya sedimentasi tidak hanya terjadi di Sungai Mentaya, tetapi juga di sejumlah wilayah lain di Indonesia yang memiliki jalur transportasi sungai.
“Di Kalimantan Tengah banyak alur sungai yang sedimentasinya tinggi. Namun kita memastikan pengerukan alur tidak bisa menggunakan APBN secara langsung, sehingga membutuhkan kerja sama dengan pihak ketiga,” jelasnya.

Ia menegaskan persoalan tersebut akan menjadi perhatian di tingkat pusat. Sebagai anggota Komisi V DPR RI, pihaknya akan membahasnya bersama kementerian dan lembaga terkait untuk mencari solusi yang tepat.
“Nanti ini juga akan kami bahas di pusat bagaimana menyiasati alur-alur sungai yang padat sedimentasi agar bisa dikeruk sehingga memberi dampak positif bagi ekonomi,” ujarnya.
Menurutnya, apabila persoalan sedimentasi dapat ditangani dengan baik, maka jalur transportasi sungai akan kembali optimal dan dapat mendukung aktivitas perdagangan serta distribusi barang di daerah.
Selain menyoroti persoalan alur sungai, Syauqie juga menyampaikan sejumlah program pembangunan dari DPR RI yang direncanakan masuk ke wilayah Kotim.
Di antaranya adalah program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau bedah rumah yang bertujuan membantu masyarakat meningkatkan kualitas hunian.
“Insya Allah ada beberapa program yang akan masuk, seperti BSPS atau bedah rumah dan beberapa program lainnya. Nanti kita tunggu teknis pelaksanaannya,” pungkasnya. (Nardi)












