Rentetan Kasus Bunuh Diri di Awal 2026, Alarm Serius bagi Kotim

IST/BERITASAMPIT - Ilustrasi Bunuh diri.

SAMPIT – Rentetan kasus bunuh diri yang terjadi sejak Januari hingga awal April 2026 di Kabupaten (Kotim) menjadi perhatian serius. Belum genap empat bulan, sejumlah serupa muncul di lokasi berbeda dengan latar belakang korban yang beragam bahkan masih muda.

Berdasarkan data yang dihimpun Berita Sampit, kasus mulai terjadi awal tahun, 14 Januari 2026 seorang remaja laki-laki masih usia SMP ditemukan meninggal dunia gantung diri di Cempaga Hulu.

Korban pertama kali ditemukan oleh orang tuanya saat pulang ke rumah. Orang tua korban kemudian meminta bantuan tetangga, yang selanjutnya menurunkan korban dari posisi tergantung.

“Berdasarkan pemeriksaan luar oleh petugas Puskesmas setempat, korban meninggal dunia akibat gantung diri. Ditemukan bekas memar di leher korban dan tidak terdapat tanda-tanda kekerasan lain di tubuh korban,” jelas Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zukarnain, melalui Kasi Humas AKP Edy Wiyoko.

Kemudian kasus percobaan bunuh diri, seorang pria berumur 33 tahun, warga Kecamatan Antang Kalang, (Kotim), dengan cara minum cairan zat kimia, Minggu, 1 Februari 2026.

Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain, melalui Kasihumas Polres Kotim AKP Edy Wiyoko menjelaskan, kejadian itu berawal saat sang istri mendapati korban telah tergeletak di dapur lantai dengan posisi tengkurap serta muntah-muntah.

Korban langsung dibawa ke puskesmas terdekat dan mendapatkan perawatan hingga kondisinya semakin membaik.

Kemudian pada 28 Februari 2026. Seorang pria ditemukan meninggal dunia dengan kondisi gantung diri di kawasan Sawit Raya Kelurahan Pasir Putih Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

Korban mengakhiri hidup di sebuah pondok yang diduga miliknya di area kebun nanas. Berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut bahwa korban bernama Khairudinor (44) mengalami gangguan kejiwaan sempat dirawat di RSUD dr Murjani.

Rentetan kasus berlanjut pada 3 April 2026, seorang ibu rumah tangga inisial PP (30) ditemukan meninggal dunia di kamar mandi rumahnya di Jalan Dewi Sartika Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dengan cara gantung diri.

Korban sempat pamit hendak mandi kepada saksi berinisial R, kemudian langsung menuju kamar mandi. Namun setelah beberapa lama korban tidak keluar.

ini sempat menggegerkan warga sekitar karena terjadi di lingkungan permukiman padat.

Terbaru terjadi pada 6 April 2026, ketika seorang pria inisial Hd (31) ditemukan meninggal dunia di dalam rumah di Hanjalipan, Kecamatan Kota Besi. Korban ditemukan rekan-rekannya saat ingin berkunjung.

Kondisi rumah yang terkunci dari dalam memperkuat dugaan bahwa korban mengakhiri hidupnya sendiri.

“Kami ketuk dan panggil-panggil tidak ada jawaban, pintu terkunci dari dalam,” ujar salah satu saksi.

Saksi kemudian masuk lewat pintu belakang dan menemukan korban sudah gantung diri di kamar.

Rentetan kasus bunuh diri yang cukup berdekatan ini menyita perhatian Ketua Komisi III DPRD Kotim, Dadang H Syamsu menyampaikan sejumlah pihak menilai fenomena ini tidak bisa dipandang sebagai kasus terpisah semata.

“Kami turut prihatin dengan berbagi rentetan kasus bunuh diri di Kotim ini harus menjadi perhatian serius semua pihak,” kata Dadang, Rabu 8 April 2026.

Ia menyampaikan salah satu cara pencegahan kasus bunuh diri adalah datang dari lingkungan terdekat yang harus peka dengan orang-orang sekitar.

“Jika diperhatikan ada tanda-tanda depresi harus kita rangkul kita beri semangat motivasi dan intinya jangan sampai dibiarkan sendirian dalam memikul beban hidup,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan Dinas juga memiliki ruang konsultasi bagi mereka yang diduga mengalami depresi supaya bisa nantinya kembali lagi menjadi baik dan bisa semangat menjalani hidup.

Faktor tekanan ekonomi, persoalan keluarga, hingga kondisi mental diduga menjadi pemicu yang saling berkaitan, meski setiap kasus memiliki latar belakang berbeda.

Ia juga mengaitkan dengan pemeriksaan Dinas Kotim yang dilakukan beberapa waktu lalu bahwa usia remaja sudah ada indikasi mengalami depresi ringan di usia sekolah.

Perubahan kondisi sosial dan tekanan hidup dapat berdampak pada meningkatnya gangguan psikologis di masyarakat.

Lingkungan sosial dinilai memiliki peran penting dalam pencegahan. Kurangnya kepedulian terhadap kondisi orang di sekitar membuat tanda-tanda tekanan psikologis tidak terdeteksi sejak dini.

“Jika anda sendiri atau seseorang yang anda kenal sedang mengalami masa sulit dan memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera hubungi profesional mental, layanan psikologi, konsultasi dinas atau IGD rumah sakit terdekat untuk mendapatkan bantuan mediasi dan dukungan emosional,” ujarnya.

Melihat tren yang terjadi, pemerintah daerah didorong untuk tidak hanya fokus pada penanganan pascakejadian, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan. mental, layanan konseling, sosialisasi hingga pelibatan masyarakat menjadi kunci untuk menekan kasus serupa.

Rentetan ini menjadi pengingat bahwa persoalan mental adalah isu nyata yang membutuhkan perhatian bersama. Tanpa langkah konkret, bukan tidak mungkin kasus serupa akan terus berulang di Kotim. (Nardi)

baca juga ...  Aksi Nekat Spesialis Pencuri Kotak Amal di Masjid Gagal Total, Terekam CCTV dan Diciduk Warga
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!