SAMPIT – Polemik distribusi pupuk subsidi kembali mencuat di Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Para petani setempat mendesak agar pengelola kios pupuk subsidi diganti dengan warga lokal yang dinilai lebih memahami kebutuhan pertanian.
Keluhan ini disampaikan langsung oleh Zumain, salah seorang petani yang merasa distribusi pupuk selama ini tidak berjalan optimal. Ia menilai pemilik kios saat ini kurang memahami siklus dan kebutuhan pertanian di lapangan.
“Diganti saja dengan warga lokal Lampuyang. Pemilik kios tidak paham pertanian, saat waktu memupuk tidak ada pupuknya,” kata Zumain pada Kamis 9 April 2026.
Kekecewaan serupa juga diungkapkan petani lainnya yang enggan disebutkan namanya. Ia mengaku sering mengalami keterlambatan pasokan pupuk, bahkan hingga lebih dari sepekan sejak pemesanan.
“Sudah lebih seminggu pesan belum datang pupuknya. Kiosnya juga tidak ada,” tegasnya.
Ia juga menyebut bahwa praktik tebus pupuk terjadi di Desa Lampuyang dimana petani menyetorkan uang terlebih dahulu baru pupuk dipesan. Hal tersebut dikatakan tidak sesuai dengan mekanisme dan aturan yang telah ditetapkan.
“Kita setor uang dahulu baru pupuk dipesan. Padahal aturannya jelas bahwa pupuk diserahkan baru kami bayar,” pungkasnya.
(Utomo)












