SAMPIT – Pelaksanaan tanam padi serentak di lahan cetak sawah rakyat di Kelurahan Baamang Hulu, Kamis 9 April 2026, tak hanya menjadi bagian dari program swasembada pangan, tetapi juga langkah antisipasi menghadapi ancaman musim kemarau panjang di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Penjabat Sekretaris Daerah Kotim, Umar Kaderi, menegaskan bahwa percepatan masa tanam menjadi kunci agar petani dapat memanen sebelum puncak kemarau terjadi.
“Kalau masa tanam sekitar empat bulan, kita berharap panen bisa dilakukan pada Juli atau Agustus. Ini penting karena informasi yang kita terima, awal kemarau diperkirakan mulai minggu ketiga Juni dan puncaknya pada September,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi sektor pertanian, terutama lahan tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan.
“Pada September diperkirakan tidak ada hujan, sehingga kita harus benar-benar memanfaatkan waktu tanam sekarang. Apa yang kita lakukan hari ini harus berdampak besar bagi ketahanan pangan daerah,” katanya.
Menurutnya, gerakan tanam serentak ini menjadi langkah strategis dalam menghadapi perubahan iklim ekstrem yang berpotensi mempengaruhi produksi pangan di daerah.
Selain itu, upaya ini juga diharapkan mampu menjaga stabilitas produksi padi di tengah ancaman kekeringan, sekaligus memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat tetap terjaga.
“Masalah pangan ini bukan sekadar produksi, tapi juga menyangkut kedaulatan dan keberlangsungan hidup. Karena itu semua pihak harus bergerak bersama,” tegasnya.
Dengan kondisi cuaca yang diprediksi semakin ekstrem, Pemkab Kotim pun mendorong petani untuk lebih cermat dalam menentukan pola tanam, agar hasil panen tetap optimal meski di tengah ancaman kemarau panjang. (nardi)












