SAMPIT – Sejumlah persoalan kesehatan masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah, mulai dari tingginya kasus hipertensi, tuberkulosis (TBC), hingga belum optimalnya pelaksanaan program cek kesehatan gratis sehingga masyarakat diharapkan ikut berpartisipasi.
Penjabat Sekretaris Daerah Kotim Umar Kaderi, menyampaikan bahwa hipertensi kini menjadi salah satu penyakit yang paling banyak ditemukan, namun tingkat pengendaliannya masih tergolong rendah.
“Hipertensi sudah menempati urutan kedua, tetapi yang berhasil dikendalikan baru sekitar 13,9 persen,” ujarnya, Kamis 23 April 2026.
Selain itu, kasus TBC pada tahun 2025 tercatat sebanyak 602 kasus. Meski angka tersebut menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 740 kasus, namun penanganannya tetap menjadi prioritas.
Di sisi lain, jumlah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) berat justru mengalami peningkatan sekitar 14,8 persen. Bahkan, masih ditemukan kasus pemasungan yang terjadi di masyarakat.
“Masih ada empat orang yang dipasung, ini tentu menjadi perhatian kita bersama,” tegasnya.
Sementara itu, pelaksanaan program cek kesehatan gratis yang dicanangkan pemerintah belum menunjukkan hasil maksimal. Capaian program tersebut baru sekitar 50,81 persen dari target indikator, dan jika dilihat dari total penduduk baru mencapai 18,29 persen.
Menurut Umar, rendahnya partisipasi masyarakat menjadi salah satu kendala utama dalam pelaksanaan program tersebut.
“Kendala terbesar adalah kesadaran masyarakat yang masih kurang untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin,” jelasnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah daerah terus mendorong keterlibatan berbagai pihak, mulai dari perangkat daerah, dunia usaha, hingga organisasi kemasyarakatan agar ikut berperan aktif dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
“Kami siap mengoptimalkan layanan cek kesehatan gratis hingga ke berbagai institusi dan masyarakat luas, supaya manfaatnya benar-benar dirasakan,” pungkasnya. (Nardi)












