PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, termasuk buruh, dengan mendorong perusahaan memprioritaskan tenaga kerja lokal.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Kalteng, Agustiar Sabran, saat menerima aspirasi serikat buruh/pekerja di Istana Isen Mulang, Rumah Jabatan Gubernur Kalteng, Jumat, 1 Mei 2026.
“Kalau ada investasi masuk, tenaga lokal harus diutamakan. Wajib menerima tenaga kerja lokal, itu komitmen kami,” tegasnya.
Selain itu, Agustiar menekankan pentingnya sektor pendidikan sebagai upaya memutus rantai kemiskinan.
Ia menyebut pemerintah daerah telah menggagas program kuliah gratis serta berbagai intervensi sosial untuk membantu masyarakat kurang mampu, termasuk keluarga buruh.
“Kami tidak ingin melihat anak-anak Kalimantan tidak bisa sekolah. Pendidikan adalah kunci memutus rantai kemiskinan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengapresiasi sikap buruh di Kalteng yang memilih menyampaikan aspirasi melalui dialog dibanding aksi turun ke jalan dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day).
“Kami selaku pemerintah daerah sangat bahagia dan bangga. Ini yang kami harapkan. Daripada turun ke jalan, bakar-bakar yang tidak jelas, kita lebih baik berdiskusi seperti ini, melihat substansi dan dampaknya bagi daerah,” katanya.
Agustiar mengingatkan agar setiap bentuk partisipasi dalam isu nasional tetap mempertimbangkan kepentingan daerah.
“Kalau partisipasi, harus ada ukurannya. Jangan sampai daerah kita dirugikan,” tegasnya.
Ia juga menyinggung pentingnya menjaga nilai kearifan lokal Kalteng, khususnya semangat kebersamaan dan persatuan dalam menghadapi berbagai persoalan.
“Kita punya warisan leluhur yang harus dijaga. Identitas kita adalah kebersamaan. Dengan kebersamaan, kita mudah berkoordinasi dan mengantisipasi berbagai persoalan,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, Agustiar turut memaparkan kondisi fiskal daerah yang saat ini mengalami keterbatasan, sehingga diperlukan sinergi semua pihak dalam menghadapi tantangan pembangunan.
“Kami ingin melihat masyarakat bahagia, itu kebahagiaan kami. Tapi dengan kondisi anggaran yang terbatas, semua harus kita hadapi bersama,” ungkapnya.
(Sya'ban)












