Fenomena Boti Dilaporkan Masuk di Kalangan Pelajar hingga ASN, Bupati Kotim Tegaskan Perilaku Menyimpang Harus Dibasmi

IST/BERITASAMPIT - Ilustrasi.

SAMPIT – Munculnya fenomena boti atau laki-laki yang berpenampilan dan berperilaku menyerupai perempuan di Kabupaten (Kotim) mulai menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Bupati Kotim Halikinnor mengaku prihatin setelah menerima informasi bahwa fenomena tersebut diduga telah merambah lingkungan pelajar hingga aparatur sipil negara (ASN).

Menurut Halikinnor, kondisi yang identik dengan kaum LGBT ini sebelumnya dianggap hanya terjadi di luar lingkungan pendidikan kini mulai terlihat lebih terbuka di tengah masyarakat.

“Awalnya saya kira hal seperti itu hanya terjadi di luar sana dan tidak sampai masuk ke lingkungan sekolah. Tetapi ternyata sekarang mulai terlihat terang-terangan dan cukup mencolok,” kata Halikinnor, Senin 25 Mei 2026.

Ia mengaku baru mengetahui istilah boti setelah menerima laporan dari sejumlah kalangan pelajar terkait fenomena tersebut. Menurutnya, persoalan itu tidak dapat dianggap sepele karena berpotensi memengaruhi lingkungan sosial dan perkembangan karakter generasi muda.

Karena itu, pemerintah daerah berencana membahas langkah-langkah penanganan bersama instansi terkait agar perilaku ini hilang jangan sampai dibiarkan hingga terjadi penyimpangan sosial, termasuk kemungkinan penyusunan aturan maupun surat edaran bagi satuan pendidikan.

“Akan kami diskusikan lebih lanjut. Kalau memang diperlukan, bisa saja dibuat aturan atau setidaknya surat edaran supaya ada pedoman yang jelas bagi sekolah,” ujarnya.

Meski demikian, Halikinnor menegaskan bahwa pendekatan yang dilakukan tidak bertujuan mengucilkan individu yang telah terpengaruh. Ia menilai pembinaan dan pendampingan lebih penting dibandingkan tindakan diskriminatif.

“Bukan berarti mereka harus dijauhi atau dikucilkan. Yang sudah terpengaruh perlu dibina dan diarahkan supaya tidak semakin jauh. Sementara yang lain juga harus dijaga agar tidak ikut terbawa,” katanya.

Menurutnya, pembinaan dapat dilakukan melalui konseling, penguatan pendidikan karakter, serta pendekatan keagamaan. Dalam hal tersebut, guru, konselor sekolah dan tokoh agama memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman kepada anak-anak maupun remaja.

“Kalau ada pendampingan dari guru, konselor maupun tokoh agama tentu akan lebih baik. Intinya bagaimana memberi pemahaman sesuai nilai moral dan agama masing-masing,” ucapnya.

Ia juga meminta sekolah memperkuat pendidikan karakter agar peserta didik tidak mudah terpengaruh lingkungan maupun tren yang berkembang melalui media sosial.

“Karakter anak-anak harus diperkuat sejak dini. Sekolah jangan hanya fokus pada pelajaran akademik, tetapi juga pembinaan sikap dan perilaku,” tegasnya.

Saat disinggung mengenai info adanya fenomena serupa di kalangan ASN, Halikinnor mengaku pernah menerima informasi terkait hal tersebut meski belum menemukan secara langsung di lapangan.

“Ada informasi yang saya dengar terkait itu, walaupun saya belum melihat secara langsung. Kalau nantinya ditemukan tentu akan ada teguran dan tindakan sesuai aturan,” katanya.

Ia menambahkan, pemerintah daerah akan melakukan langkah antisipatif agar fenomena tersebut tidak berkembang dan membentuk kelompok-kelompok tertentu di masyarakat.

“Kalau sampai berkembang dan membentuk kelompok-kelompok tertentu tentu menjadi perhatian serius. Karena itu perlu ada langkah antisipasi sejak sekarang jangan sampai penyimpangan sosial dibiarkan,” tandasnya. (Nardi)



baca juga ...  Kadis Pertanian Kotim Tancap Gas usai Dilantik, Pelajari Permasalahan Distribusi Pupuk Subsidi
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!