Mengenal Lebih Jauh Tokoh Dayak H. Mochran Ali Bupati Kedua Kabupaten

IST/BERITASAMPIT - H. Mochran Ali.

SELAMA ini masyarakat pada umumnya lebih mengenal Tjilik Riwut sebagai tokoh Dayak pejuang kemerdekaan yang berkiprah melalui jalur militer. Namun, selain beliau, terdapat pula tokoh Dayak besar lain yang berjuang melalui jalur dan diplomasi, yakni H. Mochran bin Hadji Ali atau sering dikenal Mochran Ali asal Tanjung Jariangau, Sampit,

Silsilah Singkat H. Mochran Ali

H. Mochran Ali lahir di Tanjung Jariangau, Sampit, Kabupaten , pada 31 Maret 1908 dari Sembilan bersaudara. Dilahirkan oleh pasangan H. Ali Bin Tundan dan Hj. Munah Bin H Amin Ucek. Kakeknya H Amin Ucek Bin Mangku Bujang garis keturunan Dayak Ngaju Sei Kahayan merupakan pendiri Tanjung Jariangau Kecamatan Mentaya Hulu, dan Neneknya Dayang Hj Noor Bin Patih Manca garis keturunan Dayak Ot Danum sei Melawi Kalbar.
H. Mochran Ali menikah dengan Hj. Siti Djumantan dan dikaruniai 10 orang anak yang saat ini menetap di Pulau Jawa

Profil Singkat H. Mochran Ali

Ia menempuh pendidikan di OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren) Makassar dan lulus pada tahun 1929. OSVIA merupakan sekolah elite bentukan pemerintah kolonial Belanda yang didirikan untuk mendidik kalangan pribumi terpilih agar siap menjadi pamong praja atau birokrat .

Dalam perjalanan kariernya, H. Mochran aktif di dunia bersama Partai Indonesia Raya (Parindra) periode 1932–1937 bentukan Dr. Soetomo pendiri Boedi Utomo Organisasi Pergerakan pertama di Indonesia (era colonial) , ia menjabat sebagai Asisten Kiai di Kuala Pembuang dan pernah mewakili Kepala Distrik Kuala . Selanjutnya, pada 1937–1942, ia dipercaya menjadi Kepala Distrik Pengaron Martapura dan kemudian bertugas di Banjarmasin. Istilah Kiai (Kjai) masa kolonial Belanda bukan merujuk pada pemuka agama tetapi jabatan sipil birokrasi yang diadopsi Belanda dari struktur adat Kesultanan Banjar (Kalsel & Kalteng dulu masih tergabung satu). Kepala wilayah ini melaporkan tanggung jawabnya kepada Controleur) pejabat pengawas Belanda)

baca juga ...  Bawa 13 Paket Sabu, Warga Baamang Diciduk! Polisi Ungkap Jalur Masuk dari Kalbar

Peran Mochran Ali dalam Konferensi Meja Bundar (KMB)

Dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) yang berlangsung di Den Haag, Belanda, pada 23 Agustus–2 November 1949, delegasi Indonesia terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu Delegasi Republik Indonesia yang dipimpin Mohammad Hatta dan delegasi BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleg) yang mewakili negara bagian atau daerah federal bentukan Belanda.

Dalam forum bersejarah tersebut, H. Mochran Ali hadir sebagai utusan resmi Daerah Dayak Besar (Afdeling -Barito) di dalam jajaran delegasi BFO. Ia merupakan Ketua Dewan Dayak Besar pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS) representasi penting masyarakat Dayak Kalimantan dalam diplomasi menuju pengakuan kedaulatan Indonesia.

Pengabdian H. Mochran Ali Setelah Kemerdekaan

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia, H. Mochran Ali melanjutkan pengabdiannya di tingkat . Ia pernah menjadi anggota Senat RIS serta anggota DPR-RI pada awal tahun 1950-an.

Dalam sejarah daerah, beliau tercatat sebagai Bupati ke-2 dengan masa jabatan 1956–1959 setelah Tjilik Riwut.
Sumber :
1. Hj. Siti Roosida (Anak Kandung H. Muchran Ali di Jakarta)
2. Catatan Sejarah dan Silsilah Keluarga Tanjung Jariangau

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!