PALANGKA RAYA – Meski harga BBM jenis Pertamax di Kalimantan Tengah (Kalteng) naik menjadi Rp 16.650 per liter, sebagian masyarakat di Palangka Raya tetap memilih menggunakan BBM nonsubsidi itu dengan alasan menjaga performa mesin kendaraan.
Salah seorang konsumen di SPBU Jalan Imam Bonjol, Ari (20), mengaku terkejut dengan kenaikan harga Pertamax yang cukup signifikan dari sebelumnya Rp 12.600 per liter.
“Merasa kaget, dari yang sebelumnya Rp 12.600 kini mencapai Rp 16.650 per liter,” ujarnya saat ditemui Berita Sampit di SPBU Jalan Imam Bonjol, Rabu sore, 10 Juni 2026.
Meski demikian, Ari mengaku belum berencana beralih ke Pertalite karena khawatir penggunaan BBM dengan spesifikasi berbeda dapat memengaruhi kondisi mesin kendaraannya.
“Karena motor ini biasanya isi Pertamax. Kalau diganti Pertalite takutnya ada apa-apa pada mesin. Pertalite itu RON 90, sedangkan Pertamax RON 92, itu yang menjadi pertimbangan,” katanya.
Menurutnya, kenaikan harga tersebut untuk sementara waktu belum terlalu membebani pengeluarannya.
“Untuk sementara dengan kenaikan ini tidak memberatkan. Kita mengikuti saja, kalau naik ikut, kalau turun ikut. Ikut kebijakan pemerintah saja,” tuturnya.
Hal serupa disampaikan pengguna Pertamax lainnya, Hidayatullah (21). Ia mengaku tetap menggunakan Pertamax karena khawatir performa mesin motornya menurun apabila beralih ke BBM lain.
“Takut campur-campur. Apalagi motor saya matic dan dari awal memang pakai Pertamax,” ujarnya.
Meski tetap menggunakan Pertamax, Hidayatullah mengakui kenaikan harga BBM tersebut cukup berdampak terhadap pengeluarannya sebagai mahasiswa.
“Sangat berdampak, apalagi bagi kami yang mau pulang kampung harus mengisi Pertamax penuh. Jadi sangat berdampak,” katanya saat ditemui Berita Sampit di SPBU Jalan G. Obos.
Ia menyebut biaya pengisian bahan bakar kini meningkat dibandingkan sebelumnya.
“Biasanya isi penuh Pertamax hanya Rp35 ribu, kalau benar-benar habis sekitar Rp45 ribu. Sekarang ngisinya bisa Rp60 ribu, sangat berdampak,” ujarnya.
Hidayatullah berharap kondisi ekonomi dapat segera membaik sehingga tidak semakin membebani masyarakat.
“Pesannya untuk pemerintah, semoga kondisi segera pulih,” pungkasnya.
Pantauan Berita Sampit pada Rabu sore, 10 Juni 2026, di sejumlah SPBU, seperti SPBU Jalan Imam Bonjol, Jalan RTA Milono, Jalan G. Obos, dan Jalan Yos Sudarso, menunjukkan aktivitas pengisian BBM masih berlangsung normal tanpa antrean panjang.
Untuk pengisian Pertamax, antrean kendaraan roda dua maupun roda empat rata-rata hanya berkisar dua hingga delapan unit. Sementara antrean Pertalite juga terpantau normal dan tidak terjadi penumpukan kendaraan.
Meski Pertamax mengalami kenaikan, harga BBM subsidi tidak berubah. Pertalite tetap dijual Rp 10.000 per liter dan Biosolar Rp 6.800 per liter.
Sementara itu, harga BBM nonsubsidi lainnya juga masih bertahan, yakni Pertamax Turbo Rp 21.200 per liter, Dexlite Rp 23.500 per liter, dan Pertamina Dex Rp 25.350 per liter.
(Sya'ban)












