KUALA PEMBUANG – Puluhan siswa dan belasan guru di SMP Negeri 1 Kuala Pembuang mengalami diare disertai demam yang diduga dipicu setelah mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Kuala Pembuang. Peristiwa tersebut langsung mendapat perhatian Dinas Kesehatan Kabupaten Seruyan yang membuka posko pemeriksaan kesehatan di lingkungan sekolah, Kamis 30 Juli 2026.
Kepala SMP Negeri 1 Kuala Pembuang mengungkapkan, sedikitnya 75 siswa dan 15 guru dilaporkan mengalami gangguan kesehatan. Dugaan tersebut muncul setelah para siswa dan guru menyantap menu MBG pada Selasa 28 Juli 2026 yang berisi telur orek. Sehari berselang, banyak siswa tidak masuk sekolah karena mengalami diare dan demam.
“Setelah kejadian itu, besoknya banyak siswa yang tidak masuk. Saya langsung menghubungi pihak SPPG untuk menyampaikan kondisi tersebut. Hingga tadi, tercatat ada sekitar 75 siswa dan 15 guru yang terdampak,” ujarnya.
Kepala sekolah mengaku dirinya juga mengalami gejala serupa setelah ikut mencicipi makanan yang disajikan. Ia mengalami diare hingga tiga kali disertai pusing, meski tidak sampai muntah.
“Ulun (saya) juga terdampak. Sempat diare tiga kali dan kepala pusing. Mungkin karena saya ikut mencicipi menu MBG pada hari Selasa itu,” katanya.
Meski demikian, ia belum dapat memastikan penyebab pasti kejadian tersebut. Menurutnya, kemungkinan berasal dari proses pengolahan makanan, mulai dari kebersihan peralatan hingga cara memasak. Pasalnya, dari total 653 porsi MBG yang dibagikan, hanya sebagian penerima yang mengalami keluhan.
“Bisa saja dari dapurnya, wajannya, atau cara memasaknya. Karena tidak semua terdampak. Dari 653 ompreng yang dibagikan, yang mengalami keluhan sekitar 75 siswa ditambah 15 guru,” jelasnya.
Sebagai langkah penanganan, Dinas Kesehatan Kabupaten Seruyan telah mendatangi sekolah dan membuka posko pemeriksaan kesehatan gratis bagi siswa maupun guru yang mengalami keluhan. Sementara itu, sejumlah siswa yang mulai merasakan gejala sejak malam hari memilih berobat secara mandiri sebelum akhirnya mendapat pemeriksaan lebih lanjut dari petugas kesehatan.
Hingga kini, penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut. Pihak sekolah berharap investigasi segera dilakukan agar penyebab kejadian dapat dipastikan dan peristiwa serupa tidak kembali terulang.
(ASY)












