Listrik Padam Berulang, Distribusi Air Bersih ke Wilayah Selatan Lumpuh, Perumdam Kerahkan Mobil Tangki

NARDI/BERITASAMPIT - Direktur Perumdam Tirta Mentaya Kotim Ismanadi saat rapat dengar pendapat bersama DPRD Kotim.

SAMPIT – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di Kabupaten (Kotim) memberikan dampak besar terhadap pelayanan air bersih, terutama bagi masyarakat di wilayah selatan. Perumdam Tirta Mentaya mengakui gangguan pasokan listrik membuat proses pengambilan air baku hingga distribusi ke pelanggan tidak dapat berjalan optimal.

Direktur Perumdam Tirta Mentaya Kotim, Ismanadi, menjelaskan bahwa seluruh sistem distribusi air sangat bergantung pada pasokan listrik. Ketika listrik padam, generator tidak dapat langsung beroperasi sehingga distribusi air ke wilayah selatan ikut terhambat.

“Yang pasti dampaknya generator kami terhambat beroperasi. Akibatnya distribusi air ke wilayah selatan terganggu, termasuk pengambilan air baku dari Sungai Bagendang maupun Sungai Sampit,” ujarnya Jumat 31 Juli 2026.

Ia menjelaskan, proses penyaluran air menuju wilayah Samuda membutuhkan pompa pendorong yang juga bergantung pada listrik. Jarak yang cukup jauh dari instalasi di Lepet menuju Samuda membuat dampak pemadaman sangat terasa.

Menurutnya, padam listrik selama satu jam saja dapat menyebabkan pipa distribusi kosong dan terisi udara. Kondisi tersebut membutuhkan waktu hingga empat hari agar jaringan kembali terisi air secara normal.

“Seharusnya saat listrik padam kami hanya membutuhkan waktu sekitar tiga menit untuk menghidupkan generator agar distribusi tetap berjalan. Tetapi karena kondisi yang ada, dampaknya sangat besar, apalagi intensitas pemadaman di wilayah selatan cukup sering terjadi,” katanya.

Untuk mengurangi dampak terhadap pelanggan, Perumdam Tirta Mentaya terpaksa mengoptimalkan distribusi menggunakan mobil tangki. Ismanadi mengatakan, pihaknya telah melakukan penyaluran air bersih selama hampir satu bulan, bahkan sebelum status tanggap darurat maupun dukungan dari BPBD diterbitkan.

Namun, upaya tersebut juga menghadapi keterbatasan armada. Saat ini Perumdam hanya memiliki dua mobil tangki, satu disiagakan di Sampit dan satu lagi ditempatkan di wilayah selatan untuk melayani kebutuhan mendesak.

baca juga ...  Gelorakan Suara! Mahasiswa Kotim Tolak UU TNI, DPRD Siap Kawal Aspirasi

“Kami hanya memiliki dua armada. Satu tetap siaga di Sampit dan satu lagi kami tempatkan di selatan. Kalau ada kebutuhan yang sifatnya mendesak langsung kami kirim,” jelasnya.

Ismanadi berharap penetapan BPBD sebagai leading sector penanganan darurat dapat mempermudah akses penyediaan bahan bakar minyak (BBM) bagi operasional generator maupun mobil tangki.

Ia mengungkapkan, hingga kini seluruh biaya tambahan akibat pemadaman listrik masih ditanggung sendiri oleh Perumdam melalui anggaran operasional perusahaan.

“Kalau listrik sering mati, otomatis penggunaan BBM meningkat. Semua masih kami tanggung sendiri agar pelayanan air bersih kepada masyarakat tetap berjalan,” pungkasnya. (Nardi)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!