BMKG Ungkap Fenomena Kabut Asap Sulit Terurai di Kotim

NARDI/BERITASAMPIT - Kondisi kabut asap di Sampit Kotim.

SAMPIT – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) belakangan ini sulit menghilang karena dipengaruhi kondisi atmosfer yang sedang terjadi. Salah satu faktor utamanya adalah pola sirkulasi udara yang dikenal sebagai Siklus Walker.

Kepala Stasiun Meteorologi H. Asan Kotim, Mulyono Leonardo menjelaskan, saat ini gerakan udara di atmosfer lebih dominan bergerak turun ke permukaan atau disebut downdraft. Kondisi tersebut membuat asap hasil pembakaran terperangkap di lapisan bawah atmosfer dan sulit terurai.

“Kalau terjadi updraft atau gerakan udara naik, biasanya akan terbentuk awan karena proses kondensasi berlangsung lebih baik. Namun sekarang yang dominan justru gerakan udara turun sehingga asap seperti tertahan di dekat permukaan,” katanya, Kamis 1 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, fenomena tersebut berkaitan dengan pemanasan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik bagian timur yang memengaruhi pola sirkulasi atmosfer global. Dampaknya, wilayah Indonesia cenderung mengalami tekanan udara turun sehingga pembentukan awan hujan menjadi minim.

Dalam kondisi normal, uap air akan naik ke atmosfer, mengalami kondensasi, kemudian membentuk awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Namun saat atmosfer kurang labil dan kandungan uap air terbatas, proses tersebut tidak berjalan optimal.

“Uap air yang ada tidak cukup kuat untuk naik. Ditambah labilitas atmosfer yang rendah, sehingga pembentukan awan tertekan,” ujarnya.

Kondisi ini menyebabkan asap karhutla bertahan lebih lama di udara. Situasi diperparah dengan kecepatan angin yang relatif lemah sehingga asap tidak cepat berpindah atau menyebar ke wilayah lain.

“Kalau angin tidak cukup kuat, asap akan berkumpul dan terkurung di wilayah tersebut. Berbeda jika ada angin yang lebih kencang, asap bisa terbawa dan tersebar,” jelasnya.

Selain berdampak pada kualitas udara, kabut asap juga berpengaruh terhadap jarak pandang. Namun demikian, BMKG mengaku cukup sulit memprediksi secara pasti perubahan jarak pandang karena sumber asap tidak selalu berasal dari wilayah setempat.

“Kadang asap yang masuk merupakan kiriman dari daerah lain. Karena itu cukup sulit menentukan seberapa cepat jarak pandang bisa turun drastis,” katanya.

Berdasarkan catatan pengamatan BMKG Kotim, kabut asap umumnya lebih pekat pada dini hari hingga pagi hari. Kondisi biasanya mulai membaik sekitar pukul 08.00 WIB hingga menjelang siang, sebelum kembali menebal pada siang hingga sore hari.

“Secara historis, asap cenderung paling pekat pada subuh hingga pagi. Kemudian mulai berkurang sekitar pukul 08.00 sampai tengah hari, lalu kembali meningkat pada siang hingga sore,” ujarnya.

Meski demikian, pola tersebut tidak selalu terjadi. Dalam beberapa kondisi, tingkat kepekatan asap dapat bertahan hampir sama sepanjang hari.

“Ada juga situasi di mana dari pagi sampai sore kepekatannya relatif sama. Kondisi seperti itu yang perlu diwaspadai,” tambahnya.

Terkait aktivitas masyarakat, BMKG tidak memiliki parameter khusus untuk menentukan seseorang aman atau tidak melakukan perjalanan. BMKG hanya menyampaikan informasi cuaca dan jarak pandang yang terukur di lapangan.

Menurut Leo, pada sektor penerbangan, jarak pandang menjadi salah satu faktor penting yang menentukan operasional penerbangan. Jika jarak pandang berada di bawah batas operasional yang ditetapkan, maka aktivitas penerbangan dapat terdampak.

Sementara untuk perjalanan darat, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan saat berkendara di tengah kondisi kabut asap yang membatasi jarak pandang.

“Kami mengimbau masyarakat lebih berhati-hati saat berkendara karena jarak pandang terbatas. BMKG hanya menyampaikan informasi jarak pandang yang terukur, sedangkan keputusan perjalanan tetap menyesuaikan kondisi masing-masing,” pungkasnya. (Nardi)


baca juga ...  Desa Baampah Bantu Warga Terdampak Covid-19 Gunakan PADes
Bagikan:
Berita Populer