Bupati Kotim Sebut Asap Selimuti Sampit Kiriman dari Wilayah Timur dan Selatan 

NARDI/BERITASAMPIT - Bupati Kotim Halikinnor saat meninjau karhutla.

SAMPIT – Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor memimpin rapat evaluasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pasca diperpanjangnya status tanggap darurat hingga 15 Oktober 2026, Rabu 30 September 2026.

Rapat tersebut digelar untuk menindaklanjuti hasil evaluasi sebelumnya sekaligus mengukur efektivitas langkah-langkah pemadaman yang telah dilakukan selama ini.

Dari laporan para camat dan petugas lapangan, wilayah utara Kotim saat ini relatif aman dari kebakaran maupun kabut asap. Namun persoalan masih terjadi di wilayah selatan yang menjadi sumber utama asap yang masuk ke Kota Sampit.

Menurut Halikinnor, arah angin dari timur membawa asap dari sejumlah kecamatan seperti Pulau Hanaut, Seranau, Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan hingga Teluk Sampit.

“Mayoritas wilayah utara aman. Persoalan kita ini daerah selatan. Asap yang ada di kota sebagian besar merupakan kiriman dari wilayah-wilayah tersebut,” katanya.

Ia menjelaskan salah satu kendala utama saat ini adalah proses pendinginan lahan gambut yang belum maksimal. Selama ini petugas lebih fokus memadamkan api yang terlihat, sementara bara di dalam tanah masih menyimpan panas dan kembali memunculkan titik api.

“Begitu ada laporan api membesar, tim bergerak ke sana. Sementara lokasi yang sudah padam ditinggalkan, petugas fokus dengan api yang menyala lebih dahulu tentunya. Padahal di bawah tanah masih berasap dan bisa muncul lagi,” ujarnya.

Namun dalam mengatasi bara yang menyala didalam lahan gambut tebal memerlukan suplai air yang sangat besar sehingga juga menjadi perhitungan tersendiri disaat sumber air sulit dicari.

Karena itu, pemerintah daerah menilai perlu memperkuat upaya pendinginan dengan menambah pasokan air, mesin alkon, hingga pembangunan embung untuk mendukung operasi pemadaman.

baca juga ...  Trotoar Bukan Tempat Dagang, Satpol PP Tertibkan Gerobak Liar di Sampit

“Kita mengevaluasi apakah teknik atau cara yang dilakukan untuk pemadaman ini sudah efektif dan efisien dengan hasil yang kita peroleh,” ujarnya.

Menurutnya, indikator keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya berkurangnya titik api, tetapi juga dampaknya terhadap aktivitas masyarakat. Ia menyebut operasional penerbangan dan kegiatan belajar mengajar menjadi barometer utama kondisi karhutla di daerah.

“Barometer keberhasilan penanganan karhutla kita itu pesawat bisa mendarat di bandara dan anak-anak bisa kembali belajar tatap muka. Itu jadi ukuran bahwa kondisi sudah membaik sehingga sektor lain juga bisa bergerak,” ujarnya.

Selain membahas penanganan saat ini, rapat juga mengevaluasi langkah jangka panjang, termasuk rencana pembangunan sumur bor dalam di kawasan rawan kebakaran.

Sumur bor dengan kedalaman memadai dinilai mampu menyediakan pasokan air meski pada musim kemarau ekstrem. (nardi)

Bagikan:
Berita Populer