SUKAMARA – Dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai terasa pada layanan kesehatan di Kabupaten Sukamara. Dinas Kesehatan mencatat penggunaan oksigen di sejumlah fasilitas kesehatan meningkat hingga tiga sampai empat kali lipat dibandingkan kondisi normal.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukamara, Ari Junita, mengatakan peningkatan kebutuhan oksigen tersebut terjadi cukup signifikan selama September 2026, seiring kondisi kabut asap yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
“Permintaan oksigen ada peningkatan tiga sampai empat kali lipat penggunaan oksigen pada setiap faskes dari kondisi normal biasa. Pada September terjadi cukup signifikan,” kata Ari Junita, Kamis 1 Oktober 2026.
Mengantisipasi dampak kesehatan akibat kabut asap, Dinas Kesehatan Kabupaten Sukamara juga menyiapkan layanan Rumah Oksigen di sejumlah fasilitas kesehatan.
Ari mengatakan layanan tersebut disiapkan sejak status tanggap darurat karhutla diberlakukan pada pertengahan September 2026.
“Selama status tanggap darurat karhutla dicanangkan pada pertengahan September lalu, kami sudah menyediakan Rumah Oksigen di fasilitas kesehatan dasar seperti puskesmas di seluruh Kabupaten Sukamara,” ujarnya.
Terdapat lima fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan Rumah Oksigen selama 24 jam, yakni RSUD Nawawi Mahmuda, Puskesmas Balai Riam, Puskesmas Permata Kecubung, Puskesmas Jelai dan Puskesmas Pantai Lunci.
Sementara itu, Rumah Oksigen di Puskesmas Sukamara melayani masyarakat mulai pukul 07.30 hingga 14.00 WIB.
Selain memperkuat layanan kesehatan, Dinkes Sukamara juga gencar melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai langkah-langkah menjaga kesehatan selama bencana kabut asap.
Edukasi dilakukan di sejumlah tempat keramaian, melalui pemasangan baliho dan penyampaian informasi menggunakan videotron. Sementara edukasi ke sekolah tidak dilakukan karena kegiatan pembelajaran masih menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ).
“Kami juga melakukan edukasi ke tempat keramaian, melalui baliho dan videotron. Kecuali sekolah karena ada PJJ. Kami mengedukasi apa saja yang harus dilakukan untuk mencegah supaya bencana ini tidak terlalu mengganggu kesehatan,” jelas Ari.
Masyarakat diimbau memperbanyak minum air putih, mencukupi waktu istirahat, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kondisi kabut asap masih terjadi.
“Contohnya sering minum air putih, istirahat yang cukup, mengurangi kegiatan di luar ruangan,” katanya.
Dinkes Sukamara mengimbau masyarakat tetap memperhatikan kondisi kesehatan, terutama apabila mulai mengalami keluhan yang berkaitan dengan gangguan pernapasan. Langkah pencegahan dinilai penting untuk mengurangi dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat selama penanganan karhutla berlangsung. (enn)











