SAMPIT – Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor melantik dewan hakim, dewan juri dan panitera Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-57 serta Festival Seni Qasidah (FSQ) tingkat Kabupaten Kotawaringin Timur yang akan digelar di Kecamatan Mentaya Hulu.
Pelantikan berlangsung di Aula Rumah Jabatan Bupati Kotim, Kamis 1 Oktober 2026, dan dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ), Lembaga Seni dan Qasidah Indonesia (LASQI), tokoh agama serta sejumlah kepala perangkat daerah.
Halikinnor menegaskan bahwa dewan hakim dan juri memiliki peran penting dalam menentukan kualitas pelaksanaan MTQ dan FSQ. Karena itu, ia meminta seluruh pihak yang telah dilantik menjalankan tugas secara profesional, objektif dan penuh tanggung jawab.
“Untuk itu saya meminta kepada seluruh dewan hakim dan juri agar melaksanakan tugas dengan jujur, objektif, adil, profesional, independen dan penuh tanggung jawab. Laksanakan penilaian berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan,” kata Halikinnor.
Ia mengingatkan agar proses penilaian tidak dipengaruhi hubungan pribadi, asal daerah maupun kepentingan lainnya. Menurutnya, hasil yang diputuskan harus dapat dipertanggungjawabkan sehingga dapat diterima oleh peserta maupun masyarakat.
“Berikan penilaian secara proporsional berdasarkan kemampuan dan penampilan masing-masing peserta,” ujarnya.
Halikinnor menjelaskan, pelaksanaan MTQ dan FSQ tahun ini tetap digelar di Kecamatan Mentaya Hulu sesuai jadwal yang telah ditetapkan jauh hari sebelumnya. Selain karena giliran menjadi tuan rumah, kondisi wilayah tersebut dinilai lebih kondusif karena tidak terdampak kabut asap seperti yang terjadi di sejumlah kawasan lain di Kotim.
“Memang sudah jauh hari ditetapkan sebagai tuan rumah. Di sana kondisi asap tidak seperti di Sampit, di sana tidak ada,” ucapnya.
Menurut Halikinnor, kondisi tersebut dipengaruhi karakteristik tanah di wilayah utara yang didominasi tanah mineral sehingga kebakaran lebih mudah dikendalikan dibanding kawasan bergambut.
“Di daerah utara itu karena tanah mineral. Begitu ada api dan dipadamkan, tidak muncul lagi. Tidak seperti di wilayah perkotaan yang tanahnya gambut, dipadamkan hari ini, besok bisa muncul lagi asapnya,” katanya.
Di tengah situasi karhutla yang masih berlangsung, Halikinnor juga mengajak seluruh masyarakat untuk mendoakan agar hujan segera turun sehingga kebakaran dapat segera berakhir.
“Karena saat ini pikiran kita semua bagaimana memadamkan api yang ada supaya daerah kita bisa terhindar dan berakhir karhutla ini. Kita mohon doa semua pihak agar cepat turun hujan,” tuturnya.
Selain menekankan integritas dewan hakim dan juri, Halikinnor juga meminta LPTQ bersama Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Kotim menyiapkan program pelatihan khusus bagi dewan hakim dan juri mulai tahun depan.
Menurutnya, kemampuan menjadi hakim MTQ tidak cukup hanya menguasai bacaan Al-Quran, tetapi juga membutuhkan pemahaman mendalam terhadap berbagai aspek penilaian.
“Tidak mudah menjadi dewan hakim atau juri kalau tidak punya kemampuan dan keterampilan. Karena luas sekali penilaiannya,” katanya.
Ia berharap MTQ dan FSQ menjadi sarana membumikan nilai-nilai Al-Quran sekaligus melahirkan generasi Qurani yang mampu mengharumkan nama Kotim di tingkat provinsi hingga nasional.
“Semoga kegiatan ini melahirkan qori dan qoriah, hafiz dan hafizah terbaik yang nantinya dapat mengharumkan nama Kabupaten Kotim,” pungkasnya. (nardi)











