Oleh: Tim Redaksi Berita Sampit
DINAMIKA POLITIK menuju Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2029 mulai memanas, meskipun kontestasi masih beberapa tahun lagi. Salah satu figur yang mulai diperbincangkan dan siap melakukan gebrakan adalah Perdie. Bukan lagi nama baru di bursa politik tingkat provinsi, langkah strategis figur yang pernah menjajaki Pilgub 2024 ini menarik untuk dicermati, terutama dalam mengukur peluangnya menembus dominasi petahana.Kekuatan Basis Massa dan Rekam JejakKekuatan utama Perdie berpijak pada rekam jejaknya saat memimpin Kabupaten Murung Raya selama dua periode (2013–2023). Wilayah ini menjadi lumbung suara yang mengakar kuat. Jika basis massa Dayak di wilayah utara yang meliputi Murung Raya, Barito Utara, hingga Barito Selatan kompak bersatu memberikan dukungan, maka ia akan memiliki mesin politik teritorial yang sangat solid dan menjadi penentu dalam konstelasi politik.Selain itu, dari segi mobilitas politik, Perdie tercatat pernah bermanuver mendaftar sebagai bakal calon wakil gubernur ke hampir semua partai besar (seperti PDIP, Golkar, Gerindra, Nasdem, PKB, dan PKS) serta sempat mengantongi Surat Keputusan (SK) pada Pilgub 2024 lalu. Hal ini membuktikan bahwa namanya sudah dikenal serta diperhitungkan oleh jaringan elite politik di tingkat pusat.Tantangan Elektabilitas dan PR Besar di Tingkat ProvinsiKendati memiliki basis kuat di wilayah utara, tantangan terbesar yang harus dihadapi Perdie adalah mendongkrak elektabilitasnya di skala provinsi. Berdasarkan data survei Charta Politika pada tahun 2022 lalu, tingkat keterpilihan namanya masih berada di angka 1,3 persen, yang menempatkannya masih jauh di bawah tokoh-tokoh mapan atau petahana seperti Agustiar Sabran, Nadalsyah, hingga Ben Brahim. Mengangkat elektabilitas lintas wilayah ini tentu menjadi pekerjaan rumah (PR) besar yang membutuhkan kerja politik intensif.Teka-Teki Poros Dayak dan Peta Tiga PorosPeta politik 2029 diprediksi bakal mengerucut pada pertarungan tiga poros utama, yakni poros kaum muda, poros petahana (Agustiar Sabran), dan poros Dayak. Langkah nyata Perdie untuk maju sebagai calon gubernur sangat bergantung pada dinamika internal di dalam poros Dayak itu sendiri, khususnya terkait potensi majunya tokoh-tokoh senior lain.Pertanyaannya kemudian, di tengah persaingan ketat antar-tokoh dalam satu poros, siapakah yang akan mengalah atau justru saling menguatkan? Akankah Perdie berhasil mengatasi tantangan elektabilitas provinsi dan mengamankan posisi puncak dalam pertarungan memperebutkan kursi nomor satu di daerah? Waktu yang akan menjawab bagaimana manuver-manuver taktis selanjutnya dimainkan di atas papan catur politik lokal.(***)











