PALANGKA RAYA – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Kalimantan Tengah terus memperkuat komitmennya dalam mendukung pengembangan sektor ekonomi kreatif daerah.
Melalui berbagai program pemberdayaan, BI mendorong tumbuhnya potensi ekonomi lokal, khususnya pada subsektor wastra (kain tradisional) dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Asisten Manajer BI Kalteng, Rabiul Nisa, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Wastra Talks, salah satu rangkaian acara Borneo Decafest-Pesona Tambun Bungai 2025 mengatakan, perhatian BI terhadap pengembangan wastra merupakan bagian dari upaya memperkuat daya saing UMKM daerah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Sebagai pengampu kebijakan, Bank Indonesia tidak hanya berfokus pada stabilitas ekonomi, tetapi juga berperan aktif dalam pengembangan ekonomi daerah melalui penguatan sektor rill, termasuk UMKM dan wastra,” ucapnya.
Kinerja UMKM binaan dan mitra BI di Kalimantan Tengah menunjukkan peningkatan yang signifikan. Berdasarkan data yang dihimpun, nilai omzet agregat UMKM binaan meningkat hingga 37,7 persen pada Triwulan II 2025 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, naik dari Rp5 miliar menjadi Rp7,14 miliar.
“Angka ini mencerminkan potensi besar ekonomi kreatif lokal, terutama pasca pemulihan ekonomi dan meningkatnya daya beli masyarakat,” tambahnya.
Peningkatan ini juga terlihat pada subsektor wastra dan industri tekstil yang mengalami lonjakan permintaan pada periode akhir tahun, bertepatan dengan momentum Natal dan Tahun Baru.
“Biasanya tren permintaan naik signifikan di triwulan IV karena masyarakat ingin tampil dengan busana baru di momen perayaan,”lanjutnya.
Selain itu menekankan strategi pengembangan UMKM oleh BI dilakukan secara komprehensif melalui pendekatan hulu hingga hilir.
“Di sisi hulu, BI fokus pada peningkatan kapasitas produksi dan pemasaran melalui berbagai pelatihan dan pembinaan. Program ini bertujuan meningkatkan kompetensi pelaku UMKM agar mampu memenuhi kebutuhan pasar, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga nasional dan bahkan global,” tuturnya.
Setelah aspek kapasitas diperkuat, tantangan berikutnya adalah permodalan. Untuk itu, BI berkolaborasi dengan lembaga keuangan seperti Bank Kalteng, BSI, dan PNM dalam memperluas akses pembiayaan bagi UMKM.
“Sementara di sisi hilir, BI mendorong perluasan akses pasar dengan menghubungkan pelaku UMKM ke pasar umum (regular market) maupun pasar khusus (niche market), yang memiliki potensi nilai jual tinggi dan orientasi ekspor,” ungkapnya. (yud)












