SAMPIT – Misteri kasus seorang pria yang ditemukan bersimbah darah dengan luka robek di bagian leher di Mes Karyawan PT Agrinas Palma Nusantara, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, akhirnya terungkap.
Korban yang sempat berada dalam kondisi kritis ternyata mengalami luka akibat penusukan senjata tajam, bukan karena percobaan bunuh diri seperti yang sempat ramai beredar di masyarakat.
Peristiwa yang menghebohkan lingkungan mes karyawan itu sejak awal dipenuhi spekulasi. Minimnya saksi dan keterangan yang berubah-ubah membuat aparat kepolisian sempat kesulitan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi.
Fokus petugas kala itu lebih diarahkan pada penyelamatan nyawa korban yang dilarikan ke RSUD dr Murjani Sampit.
“Informasi di lapangan simpang siur. Ada yang menyebut korban melukai dirinya sendiri, ada pula yang menyatakan terjadi penikaman. Kami harus memastikan kondisi korban stabil terlebih dahulu sebelum menggali keterangan lebih lanjut,” ujar Kasi Humas Polres Kotim, AKP Edy Wiyoko, mewakili Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain, Jumat 9 Januari 2026.
Seiring membaiknya kondisi korban, penyidik akhirnya memperoleh titik terang. Fakta yang terungkap justru mengejutkan, sebab pelaku penusukan adalah istri korban sendiri.
Dari hasil pemeriksaan, insiden berdarah itu dipicu oleh konflik rumah tangga yang telah memanas sebelum kejadian.
Polisi mengungkapkan, pertengkaran pasangan suami istri tersebut bermula dari persoalan komunikasi dan rasa curiga. Adu mulut yang tak terkendali berubah menjadi ledakan emosi, hingga sang istri mengambil pisau dapur dan melakukan tindakan kekerasan terhadap suaminya.
“Tersangka menusuk korban satu kali di bagian leher kanan dari arah belakang. Korban langsung mengalami kondisi kritis dan harus mendapatkan penanganan medis intensif,” jelas Edy.
Saat ini, tersangka masih diamankan di Polsek Sei Sampit. Penanganan perkara selanjutnya akan dikoordinasikan dengan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Kotim, mengingat kasus ini masuk dalam ranah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Kasus ini sekaligus menjadi penegasan bagi kepolisian agar masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, sekaligus pengingat bahwa konflik domestik yang dibiarkan berlarut dapat berujung pada tragedi serius.
(Jimmy)












