SAMPIT – Badan Pengelola Pendapatan Daerah (Bappenda) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencatat penurunan pendapatan asli daerah dari sektor pajak sarang burung walet sejak 2024. Kondisi ini membuat pemerintah daerah menyesuaikan kembali target PAD hingga 2026, menjadi Rp260 juta.
Kepala Bappenda Kotim Ramadansyah menyampaikan bahwa pada 2024 target PAD sarang burung walet ditetapkan sebesar Rp560.060.000. Namun realisasi yang tercapai hanya Rp347.122.362, sehingga mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Memasuki 2025, target pajak walet kemudian diturunkan menjadi Rp300 juta. Meski demikian, realisasi justru melampaui target dengan capaian Rp353.360.470 atau lebih sekitar Rp50 juta dari yang ditetapkan.
“Ini di luar prediksi kami. Target sudah diturunkan, tetapi realisasi malah lebih tinggi,” ujarnya, Kamis 15 Januari 2026.
Sementara untuk 2026, Bapenda kembali menyesuaikan target menjadi Rp260 juta. Penurunan ini dilakukan berdasarkan informasi lapangan, termasuk laporan dari sejumlah pemilik gedung walet yang menyampaikan bahwa bangunan mereka sudah tidak lagi produktif.
Ramadansyah menjelaskan, pihaknya telah menerima beberapa surat dari pemilik gedung walet yang menyebutkan bahwa gedung mereka kini kosong dan tidak lagi menghasilkan sarang. Namun demikian, kondisi tersebut masih perlu dibuktikan melalui pendataan ulang ke lapangan.
“Tahun ini kami akan melakukan pendataan kembali bersama pihak kecamatan dan desa, untuk memastikan mana yang masih produktif, tidak produktif, bahkan yang sudah benar-benar kosong,” jelasnya.
Ia mengakui proses verifikasi menjadi tantangan karena pemerintah tidak memiliki kewenangan untuk masuk ke dalam gedung walet. Sistem pemungutan pajak masih mengandalkan pelaporan mandiri, sehingga tingkat kejujuran wajib pajak sangat menentukan.
“Kami hanya menerima laporan. Kalau sebelumnya panen 10 kilo lalu turun jadi 5 kilo, kami tidak bisa melihat langsung. Itu yang menjadi kesulitan kami,” katanya.
Meski demikian, ia menyebut wajib pajak yang masih aktif umumnya melaporkan adanya penurunan produksi. Beberapa pembudidaya yang sebelumnya panen rutin setiap bulan, kini tidak lagi konsisten karena berkurangnya populasi burung walet. (nardi)












