SAMPIT – Musyawarah Cabang (Muscab) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) zona III digelar di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Selasa 14 April 2026. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi partai dalam memperkuat konsolidasi organisasi di tingkat daerah.
Ketua panitia Muscab PKB zona III, Muhammad Abadi, menyampaikan bahwa kegiatan ini diikuti sekitar 150 peserta yang berasal dari empat Dewan Pimpinan Cabang (DPC), yakni Kotim, Seruyan, Kotawaringin Barat (Kobar), dan Sukamara. Sejumlah pengurus dari DPP, DPW Kalteng, serta undangan lainnya juga turut hadir dalam agenda tersebut.
Ia menjelaskan, pelaksanaan Muscab ini tidak hanya sebagai ajang konsolidasi, tetapi juga untuk mengevaluasi regenerasi kepengurusan serta menyusun program kerja ke depan. “Harapannya, kegiatan ini mampu menghasilkan keputusan terbaik bagi masa depan partai,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPW PKB Kalteng, Rahmanto Muhidin, mengapresiasi pelaksanaan Muscab zona III yang digelar di Kotim sebagai tuan rumah. Ia juga menilai adanya dukungan dari pemerintah daerah yang memfasilitasi kegiatan tersebut.
Dalam kesempatan itu, Rahmanto yang juga merupakan Wakil Bupati Murung Raya menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Kotim mengalami kenaikan yang signifikan. Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil kerja sama seluruh elemen, baik eksekutif maupun legislatif.
“Artinya, PKB diharapkan menjadi bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi daerah agar semakin baik. Indeks pembangunan manusia di Kotim juga cukup tinggi di Kalteng, dan itu tidak hanya di atas kertas, tetapi juga terlihat di lapangan,” jelasnya.
Ia menambahkan, Muscab zona III merupakan penutup dari rangkaian Muscab PKB di Kalteng. Sebelumnya, Muscab zona I wilayah Barito telah digelar pada 8 April 2026, disusul zona II wilayah tengah pada 13 April 2026. Selanjutnya, tahapan akan berlanjut ke Uji Kelayakan dan Kepatutan (UKK) tahap I dan II yang dijadwalkan pada 23 April 2026 di Palangka Raya.
Rahmanto juga menekankan pentingnya soliditas kader dari tingkat ranting hingga cabang untuk menyatukan langkah dan visi dalam membesarkan partai. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, tanpa memandang latar belakang agama, untuk bergabung dan berkontribusi bersama PKB demi kesejahteraan masyarakat.
“PKB terbuka untuk semua kalangan, baik Islam, Nasrani, Hindu, Buddha maupun Kaharingan. Politik harus dijadikan sebagai jalan pengabdian kepada masyarakat,” tegasnya.
Selain itu, ia menyoroti peran strategis PKB dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat kecil, seperti petani, nelayan, dan buruh. Menurutnya, sektor-sektor tersebut masih membutuhkan perhatian serius, terutama terkait kesejahteraan.
“Kotim memiliki potensi besar sebagai daerah lumbung pangan dan sektor perkebunan sawit yang berkembang. Pelabuhan Sampit dan Pangkalan Bun juga menjadi pintu gerbang ekonomi di Kalteng,” tandasnya.
Melalui Muscab ini, diharapkan seluruh jajaran PKB, khususnya di Kotim dan wilayah zona III, semakin memperkuat komitmen dalam bersinergi dengan pemerintah serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Hadir pula Wakil Sekretaris Jenderal DPP PKB, Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz yang juga menjabat sebagai Ketua Fraksi PKB MPR RI. Dalam penyampaiannya, ia menekankan pentingnya Muscab sebagai momentum mengeliminasi potensi konflik internal sekaligus membuka ruang usulan figur terbaik dari daerah.
Ia menyampaikan optimisme PKB dalam menghadapi Pilkada maupun Pemilu ke depan. Menurutnya, kekuatan partai dibangun dari kerja kolektif seluruh kader, mulai dari pengurus DPC, PAC, hingga kader di tingkat ranting yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.
“Garda terdepan perjuangan ada pada kader di lapangan yang merasakan langsung denyut nadi masyarakat. Keberhasilan partai ditentukan dari seberapa konsisten kita bergerak,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan tiga amanat politik dari Muhaimin, yakni politik kehadiran, politik pelayanan, dan politik keteladanan, serta kepemimpinan yang berpihak kepada rakyat.
Politik kehadiran, kata dia, mengharuskan kader PKB selalu berada di tengah masyarakat setiap saat. Politik pelayanan berarti mengubah setiap persoalan menjadi kemaslahatan, atau minimal mampu menghadirkan akses kebijakan sebagai solusi.
Sementara politik keteladanan mengingatkan agar kader PKB, khususnya yang memiliki jabatan, tidak mementingkan kepentingan pribadi. Sedangkan politik kepemimpinan menegaskan bahwa setiap kader harus siap menjadi pemimpin yang berpihak kepada rakyat.
“Kalau kita hadir, maka kepercayaan akan tumbuh. Yang dilihat masyarakat bukan janji, tapi bukti. Bukan retorika, melainkan kerja nyata,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa kaderisasi merupakan jiwa dan napas partai yang harus terus dijalankan secara berkelanjutan. Tanpa kaderisasi, partai akan kehilangan arah dan masa depan.
Tantangan ke depan tidak ringan karena kompetisi politik akan semakin ketat. Namun dengan kerja nyata di tengah masyarakat, PKB diyakini mampu menghadapi hal tersebut.
“Kuatkan komitmen, gerakkan struktur, dan siapkan kader terbaik. Kemenangan tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus diperjuangkan bersama,” pungkasnya. (Nardi)












