Oli Motor di Makin Mahal, Naik hingga Rp15 Ribu

SYA'BAN/BERITASAMPIT - Suami pemilik bengkel, Eva, saat melakukan servis sepeda motor pelanggan di bengkelnya di kawasan Jalan B. Koetin, , Kamis, 4 Juni 2026.

Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada bahan pokok, tetapi juga komponen kendaraan bermotor. Dalam beberapa bulan terakhir, harga oli motor di , mengalami kenaikan yang berdampak pada usaha bengkel dan daya beli konsumen.

Pemilik bengkel di kawasan Jalan B. Koetin, Eva (26), mengatakan kenaikan harga oli membuat banyak pelanggan terkejut hingga membatalkan niat untuk melakukan servis atau mengganti oli.

“Dampaknya sangat terasa. Kadang pelanggan kaget karena kenaikannya cukup signifikan. Ada yang awalnya mau ganti oli, tapi setelah tahu harganya langsung pergi dan tidak jadi,” ujarnya kepada Berita Sampit, Kamis, 4 Juni 2026.

Menurut Eva, harga sejumlah produk oli mengalami kenaikan antara Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per botol. Salah satu yang paling terasa adalah oli MPX 2 yang sebelumnya dijual sekitar Rp50 ribu per botol, kini mencapai Rp65 ribu.

“Signifikan sekali naiknya. Oli MPX 2 misalnya, dulu sekitar Rp50 ribu, sekarang Rp65 ribu. Jadi naik Rp15 ribu dari harga sebelumnya,” katanya.

Kenaikan tersebut juga berdampak pada biaya servis yang harus disesuaikan dengan harga oli terbaru. Di sisi lain, para pemilik bengkel ikut menghadapi kenaikan modal usaha.

“Modal kami juga naik. Kami ingin memberikan harga yang murah kepada pelanggan, tetapi modal yang kami keluarkan juga sudah jauh lebih tinggi,” ujarnya.

Eva mengungkapkan kenaikan harga mulai terjadi sekitar dua bulan terakhir. Bahkan dalam satu bulan, harga dari distributor disebut berubah hampir setiap minggu.

“Naiknya itu sekitar dua bulan lalu. Dalam satu bulan saja, hampir setiap minggu ada perubahan harga. Sampai sekarang masih naik,” katanya.

Terkait penyebab kenaikan harga, Eva mengaku tidak mengetahui secara pasti. Namun, informasi yang diterimanya menyebutkan kenaikan kemungkinan dipengaruhi kondisi ekonomi global.

“Kalau penyebab pastinya saya kurang tahu. Katanya sih ada pengaruh geopolitik global atau nilai tukar dolar, tapi kami hanya mengikuti harga pasar,” ucapnya.

Akibat kenaikan harga tersebut, jumlah pelanggan yang datang ke bengkelnya mengalami penurunan cukup signifikan. Ia memperkirakan jumlah pelanggan berkurang sekitar 40 persen dibandingkan sebelum harga oli naik.

“Pelanggan turun cukup banyak. Mungkin mereka mencari tempat yang lebih murah. Kalau diangkakan sekitar 40 persen turun dibandingkan sebelum harga naik,” katanya.

Meski demikian, pelanggan tetap yang sudah memahami kondisi pasar masih bertahan. Sementara pelanggan yang datang sesekali cenderung mencari alternatif lain dengan harga yang lebih rendah.

“Kalau pelanggan tetap biasanya mengerti. Tapi kalau yang bukan pelanggan tetap, banyak yang akhirnya mencari harga yang lebih murah. Di sisi lain, kalau harga tidak dinaikkan, kami yang rugi,” tutupnya.

(Sya'ban)

baca juga ...  Cipayung Plus Desak DPR Segera Sahkan RUU Perampasan Aset dan RUU Masyarakat Adat
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!