SAMPIT – Anjloknya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang dikeluhkan petani di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mendapat perhatian dari Wakil Bupati Kotim Irawati. Pemerintah daerah berjanji akan menyampaikan aspirasi masyarakat kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah agar diteruskan ke pemerintah pusat.
Irawati mengatakan penurunan harga sawit yang terjadi dalam beberapa hari terakhir telah menimbulkan keresahan di kalangan petani.
“Banyak petani kita adalah masyarakat kecil yang sangat bergantung pada sawit. Kami berharap kondisi ini mendapat perhatian serius karena yang dikeluhkan masyarakat saat ini adalah turunnya harga kelapa sawit,” kata Irawati, Sabtu 23 Mei 2026.
Menurutnya, pemerintah daerah memahami kekhawatiran petani yang merasa terdampak oleh perubahan kebijakan tata niaga ekspor kelapa sawit.
Ia berharap Gubernur Kalteng Agustiar Sabran yang juga dari Partai Gerindra dapat menjembatani aspirasi masyarakat kepada pemerintah pusat agar setiap kebijakan yang diterapkan tetap memperhatikan kesejahteraan petani sebagai pelaku utama sektor perkebunan.
“Memang ada kebijakan yang ditetapkan pemerintah pusat terkait tata niaga ekspor. Namun kami berharap melalui gubernur, kondisi masyarakat dan kesejahteraan petani juga dapat menjadi perhatian. Karena kesejahteraan daerah sangat bergantung pada kesejahteraan masyarakatnya,” ujarnya.
Irawati mengungkapkan laporan mengenai penurunan harga sawit mulai banyak diterimanya tidak lama setelah muncul kebijakan tersebut. Bahkan, menurut informasi yang disampaikan masyarakat, harga di tingkat pengepul turun cukup tajam dibandingkan sebelumnya.
“Ada laporan yang masuk kepada kami bahwa harga di tingkat pengepul turun jauh. Sebelumnya mendekati Rp3.000 per kilogram, sekarang ada yang hanya sekitar Rp1.000 sampai Rp1.750 per kilogram,” ungkapnya.
Kondisi itu dinilai semakin berat karena petani juga harus menghadapi tingginya harga pupuk serta berbagai kebutuhan operasional kebun lainnya. Jika harga jual hasil panen terus melemah, maka pendapatan petani akan semakin tergerus.
“Kasihan petani kita. Biaya pupuk dan operasional kebun saat ini tidak murah. Ketika harga sawit turun drastis, tentu sangat mempengaruhi penghasilan mereka,” katanya.
Irawati juga mengingatkan agar pengalaman serupa yang pernah terjadi pada sejumlah komoditas unggulan daerah tidak kembali terulang. Menurutnya, masyarakat masih merasakan dampak penurunan harga pada komoditas walet, karet dan rotan yang membutuhkan waktu lama untuk pulih.
“Jangan sampai kejadian pada komoditas lain terulang lagi. Kita ingin kebijakan yang ada tetap memberikan ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan harga yang layak,” tuturnya.
Meski demikian, ia menegaskan pemerintah kabupaten tidak memiliki kewenangan untuk menentukan harga sawit karena kebijakan tersebut berada di tingkat pemerintah pusat. Peran pemerintah daerah saat ini adalah menyampaikan kondisi riil masyarakat serta mendorong adanya perhatian terhadap petani.
Selain berdampak pada petani, penurunan harga sawit juga dikhawatirkan berpengaruh terhadap perekonomian daerah. Pasalnya, sektor perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu penopang utama aktivitas ekonomi di Kotim.
“Kotim merupakan salah satu penyumbang PDRB terbesar di Kalteng dan sektor perkebunan sawit memiliki kontribusi yang sangat besar,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kotim mengalami penurunan setelah muncul kebijakan pemerintah terkait tata niaga ekspor kelapa sawit yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto. Kebijakan tersebut mewajibkan ekspor sawit dan sejumlah komoditas strategis dilakukan melalui mekanisme satu pintu yang melibatkan badan usaha milik negara (BUMN).
Penurunan harga tersebut memicu keluhan dari para petani. Salah satunya Benny, petani sawit di Kotim, yang mengaku pendapatan petani terdampak cukup besar akibat anjloknya harga jual buah sawit. Menurutnya, harga di tingkat pengepul saat ini hanya berkisar Rp2.000 per kilogram, bahkan ada informasi harga berpotensi turun kembali.
“Petani sawit bisa dibilang menangis karena turunnya sangat drastis. Biasanya penurunan hanya sekitar Rp50 sampai Rp100 per kilogram, sekarang mencapai Rp600 per kilogram. Sementara harga pupuk dan BBM terus naik,” ujar Benny. (Nardi)












