SAMPIT – Turnamen sepak bola HNR Cup 2 Tahun 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi antar klub, tetapi juga membuka peluang bagi pemain muda potensial dari Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) untuk mengikuti try out untuk bisa berkarier di klub prpfesional.
Ketua Panitia HNR Cup 2, Ahmad Bashudin, mengatakan pihaknya akan melakukan pemantauan terhadap pemain-pemain berbakat selama turnamen berlangsung.
“Kami nanti lihat setiap pertandingan, per item kita catat, ada pemandu bakat yang menilai mereka,” kata Ahmad, Senin 1 Juni 2026.
Kemudian hasil penilaian akan disampaikan kepada pemain legenda nasional yang juga hadir dalam pembukaan HNR Cup 2 yaitu Isnan Ali, Zaenal Arif dan Ilham Jaya Kesuma. Mereka pelatih di klub dan memiliki jaringan klub profesional.
Ia menjelaskan nantinya ketiga legenda Timnas yang memutuskan para pemain tersebut dan akan diproyeksikan mengikuti try out di Bandung, nantinya akan dipilih berdasarkan kemampuan teknik, kondisi fisik dan sikap di dalam maupun luar lapangan.
“Yang pasti mereka pemain yang mempunyai skill, fisik yang kuat dan terutama attitude,” katanya.
Untuk usia pemain yang diprioritaskan, panitia menargetkan kelompok usia di bawah 20 tahun.
“Nanti mereka dibawa try out dulu, setelah itu baru ada penilaian lagi dari sana,” jelasnya.
Ia menyebut rencana awal terdapat sekitar 10 pemain potensial yang akan diproyeksikan mengikuti program tersebut.
Ahmad menjelaskan HNR Cup 2 tahun ini diikuti sebanyak 64 tim dari tiga kabupaten, yakni Kotawaringin Timur, Seruyan dan Kotawaringin Barat.
“Desan sistem gugur, pertandingannya berlangsung kurang lebih 32 hari dari 31 Mei sampai final tanggal 5 Juli,” katanya.
Ia menambahkan sebagian besar pemain yang tampil berasal dari Sampit dan wilayah Kotim, meski tersebar di berbagai klub.
“Kalau pemain asli Sampit saya kira sekitar 60 persen, cuma mereka terbagi di banyak klub. Ada juga yang dari desa seperti Tanjung Jariangau dan Parenggean,” ujarnya.
Untuk total hadiah, panitia menyediakan Rp75 juta dengan rincian juara pertama Rp35 juta, juara kedua Rp15 juta dan juara ketiga bersama masing-masing Rp7,5 juta.
Ahmad menilai antusias masyarakat terhadap sepak bola di Kotim masih sangat tinggi. Namun ia menyayangkan hingga kini Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Kotim belum aktif kembali.
“Dulu Sampit jadi barometer sepak bola di Kalteng lewat club sepak bola Persesam, tapi sekarang malah tertinggal,” katanya.
Menurutnya, HNR Cup digelar secara swadaya oleh komunitas pecinta sepak bola tanpa menggunakan anggaran pemerintah daerah.
“Kami murni dari sponsor dan komunitas. Harapan kami ke depan ASKAP bisa berjalan lagi supaya kompetisi berjenjang dari usia dini sampai senior bisa kembali hidup, itu harapan pecinta sepak bola Kotim,” pungkasnya. (Nardi)












