Gandeng 8 Universitas Kalsel, Menteri Mukhtarudin Siapkan Ekosistem Hulu-Hilir Pekerja Migran Berkualitas

Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, menerima audiensi dari pimpinan 8 Universitas asal Provinsi di kantor KP2MI, Jakarta Selatan, pada Rabu 10 Juni 2026.

JAKARTA— Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, menerima audiensi dari pimpinan 8 Universitas asal Provinsi di kantor KP2MI, Jakarta Selatan, pada Rabu 10 Juni 2026.

Pertemuan strategis ini mempertemukan 1 Universitas Negeri dan 7 Universitas Swasta guna membahas kerja sama (MoU) pembentukan ekosistem penempatan dan pelindungan Pekerja Migran Indonesia yang holistik dari hulu ke hilir.

Dalam pertemuan tersebut, Menteri Mukhtarudin didampingi oleh Direktur Jenderal Pemberdayaan, Fachri, serta Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri (P3KLN), Dwi Setiawan Susanto.

Mengubah Paradigma: Menuju Medium-High Skill

Menteri Mukhtarudin menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden RI. Pemerintah berkomitmen memberikan pelindungan maksimal sebelum, selama, dan setelah bekerja, sekaligus menggeser orientasi Pekerja Migran dari tenaga kerja berkeahlian rendah (low skill) menjadi tenaga kerja berkeahlian menengah hingga tinggi (medium-high skill).

“Untuk mencapai penempatan yang berkualitas, kita harus menciptakan ekosistem di sektor hulunya terlebih dahulu. Di sinilah pentingnya peran perguruan tinggi. Melalui infrastruktur yang sudah dimiliki kampus, kita akan membentuk Migrant Center di universitas,” ujar Mukhtarudin.

Tantangan Bonus Demografi dan Gap Peluang Kerja

Indonesia saat ini berada di puncak bonus demografi (2020–2035). Pada tahun 2025 saja, usia produktif mencapai 183,3 juta jiwa dan diproyeksikan melonjak ke angka 207,9 juta jiwa pada 2045.

“Di sisi lain, fenomena aging population di luar negeri memicu tingginya permintaan tenaga kerja global,” imbuh Menteri Mukhtarudin.

Namun, data Sistem Informasi P2MI (SIP2MI) per 5 Juni 2026 menunjukkan adanya kesenjangan (gap) serapan yang cukup besar, di mana dari total peluang kerja luar negeri yang tersedia sebanyak 312.797 posisi, jumlah yang baru berhasil terserap hanya mencapai 75.378 posisi atau sekitar 24,41 persen.

Kondisi ini menyisakan peluang terbuka yang sangat luas, yaitu sebanyak 233.401 posisi atau sekitar 75,59 persen yang belum terisi dan menanti untuk dimanfaatkan oleh tenaga kerja Indonesia yang kompeten serta memenuhi kualifikasi pasar global.

Untuk memangkas jarak tersebut, KemenP2MI secara masif menggenjot program pelatihan vokasi. Hingga saat ini, kementerian telah meresmikan Migrant Center di 22 Perguruan Tinggi, dengan 9 kampus lainnya sedang dalam proses pengembangan.

Potret Demografi dan Penempatan Pekerja Migran Asal

Berdasarkan data BPS tahun 2025, memiliki total penduduk 4,32 juta jiwa dengan angkatan kerja menyentuh 2,24 juta jiwa.

baca juga ...  Sinergi Pusat-Daerah: Menteri Mukhtarudin dan Bupati Kobar Kalteng Siapkan Transformasi Pekerja Migran Berkualitas

Meski potensinya besar, catatan SISKOP2MI menunjukkan bahwa kontribusi penempatan Pekerja Migran asal Kalsel periode Januari 2023 hingga 9 Juni 2026 baru mencapai 672 layanan penempatan (dengan 338 Pekerja Migran berkontrak aktif).

Mayoritas jabatan masih didominasi oleh sektor domestik dan jasa seperti House Maid, Caregiver, Care Worker dan Cleaning Worker. Melalui kemitraan dengan akademisi, profil kompetensi ini diharapkan dapat terdongkrak naik.

4 Poin Strategis Kolaborasi Kampus Kalsel

Guna merealisasikan visi tersebut, Menteri Mukhtarudin memaparkan empat potensi kerja sama strategis yang nantinya akan dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan delapan perguruan tinggi asal .

Poin pertama fokus pada pengembangan Migrant Center berbasis perguruan tinggi yang berfungsi sebagai pusat layanan terpadu (one-stop service) di dalam kampus untuk menyediakan informasi pasar kerja global, pelatihan bahasa, pengenalan budaya negara tujuan, hingga pendampingan administrasi penempatan.

Poin kedua mencakup pembentukan Pusat Kajian dan Riset Pekerja Migran sebagai wadah studi migrasi ketenagakerjaan yang memproduksi riset berbasis data (evidence-based) terkait pemetaan kebutuhan pasar global serta perumusan strategi pemberdayaan bagi purna Pekerja Migran.

Selanjutnya, poin ketiga mendorong kolaborasi di bidang digitalisasi dan sistem informasi melalui pengembangan dashboard peluang kerja luar negeri, sistem peringatan dini (early warning system) penempatan ilegal.

Terakhir, kerja sama ini akan mengintegrasikan program migrasi aman di dan sekolah dengan melibatkan mahasiswa secara aktif melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) maupun relawan kampus guna menyosialisasikan prosedur penempatan yang benar sekaligus mencegah Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

“Jadi, perguruan tinggi harus ada Migrant Center di kampus, ini sangat penting karena institusi pendidikan tidak hanya bertugas mencetak lulusan, tetapi kini sekaligus ikut mengantarkan dan menempatkan mereka ke jenjang karier global yang bermartabat,” pungkas Menteri P2MI Mukhtarudin.

Universitas Sari Mulia Banjarmasin Siap Dorong Alumni ke Pasar Global

Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Sumber Daya Universitas Sari Mulia (UNISM) Banjarmasin, Assoc. Prof. Dr. Dede Mahdiyah, menyatakan kesiapan institusinya dalam mendukung penuh program penempatan pekerja migran berkualitas berbasis kampus.

baca juga ...  Menteri Mukhtarudin Kunjungi Museum Cornelius Willem, Ajak Generasi Muda Kuasai Sejarah Lewat Literasi Digital

Sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di , Dede mengatakan Universitas Sari Mulia saat ini ditopang oleh infrastruktur akademik yang kuat melalui kepemilikan 4 fakultas besar, yaitu Fakultas , Fakultas , Fakultas Sains dan Teknologi, serta Fakultas Kedokteran Hewan, yang secara keseluruhan memayungi 18 program studi (Prodi).

“Potensi besar dari belasan program studi ini menjadi modal hulu yang sangat strategis untuk mencetak sumber daya manusia yang kompeten, terampil, dan siap bersaing memenuhi tingginya permintaan tenaga kerja profesional di tingkat ,” beber Dede Mahdiyah.

Dihadapan Menteri P2MI Mukhtarudin, Assoc. Prof. Dede Mahdiyah memaparkan bahwa rekam jejak alumni Universitas Sari Mulia dalam menembus pasar kerja global sejatinya sudah mulai terbentuk dan berjalan di beberapa negara penempatan.

Hingga saat ini, tercatat sebanyak 12 orang alumni UNISM telah aktif bekerja secara profesional di Jepang, 2 orang alumni di Arab Saudi, 1 orang di Australia, serta 3 orang alumni lainnya yang kini tengah berkarier di Jerman.

Seluruh proses penempatan para alumni ke berbagai negara tujuan tersebut berhasil difasilitasi dengan baik melalui skema Pemerintah ke Pemerintah (Government to Government/G-to-G) maupun jalur mandiri.

Keberhasilan ini tidak lepas dari adanya program pelatihan studi terstruktur serta peran aktif Universitas Sari Mulia, yang selama ini konsisten bergerak di bidang aktivitas riset dan program pengabdian kepada masyarakat demi menjembatani kesiapan transisi karier mahasiswa dari dunia kampus ke dunia kerja.

Meskipun minat dan antusiasme mahasiswa UNISM untuk meniti karier di luar negeri tergolong sangat tinggi, pihak universitas tidak menampik adanya kendala kultural yang kerap menjadi batu sandungan di lapangan.

Kendala utama yang paling sering dihadapi oleh para lulusan adalah sulitnya mendapatkan restu atau izin dari orang tua, yang sebagian besar masih merasa khawatir dan enggan melepas anak-anak mereka bekerja di tempat yang terlalu jauh dari kampung halaman.

Menanggapi fenomena tersebut, Universitas Sari Mulia mengharapkan adanya arahan strategis, intervensi kebijakan, serta asistensi dari KemenP2MI guna merumuskan formula sosialisasi yang tepat bagi lingkungan keluarga calon pekerja migran.

Pihak kampus menilai, mengenai jaminan pelindungan negara dan kejelasan prosedur kerja yang aman perlu disampaikan secara masif agar mampu mengikis kekhawatiran para orang tua.

baca juga ...  Pasca Pencopotan Dadan Hindayana, Kejagung Geledah Kantor Badan Gizi Nasional

Melalui rencana penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang tengah dimatangkan bersama KemenP2MI, Universitas Sari Mulia optimis dapat mengurai kendala tersebut sekaligus menciptakan lompatan besar bagi masa depan alumni.

Sinergi ini diharapkan menjadi stimulus kuat yang memotivasi, mengarahkan, dan mendorong mahasiswa UNISM untuk berani mengambil peluang karier di panggung secara resmi, aman, dan prosedural.

“Dengan hadirnya ekosistem yang terintegrasi di dalam kampus melalui rencana pembentukan Migrant Center, Universitas Sari Mulia berkomitmen mengubah potensi besar angkatan kerja muda menjadi tenaga kerja ahli yang diakui global dan terlindungi secara dari hulu hingga hilir,” pungkas Prof. Dede Mahdiyah.

Pertemuan ini dihadiri langsung oleh jajaran delegasi dan rektorat dari delapan institusi pendidikan tinggi di diantaranya:

​UIN Antasari Banjarmasin: Prof. Dr. Hj. Nida Mufidah, M.Pd. (Rektor) & Prof. Hj. Wahidah (Dekan Fakultas Syariah).

​Universitas Muhammadiyah Banjarmasin: Ir. Ar. Noor Aina, S.T., M.Sc, IAI, GP. (Kepala Urusan Kerja Sama Dalam Negeri).

​UNISKA MAB Banjarmasin: Prof. Ir. Aam Gunawan, MP (Wakil Rektor I) & Dr. Nurul Indah Qariati, SKM., M.Kes. (Kabid Kerja Sama).

​Universitas Sari Mulia Banjarmasin: Assoc. Prof. Dr. Hj. RR. Dwi Sogi Sri Redjeki, SKG., M.Pd (Rektor), Assoc. Prof. Dr. Dede Mahdiyah, M.Si. (Warek I), & Dr. Adriana Palimbo, S.Si.T., M.Kes. (Warek III).

​UNU : Dr. Ir. H. Abrani Sulaiman, M.Sc. (Rektor).

​Universitas Achmad Yani Banjarmasin: Prof. Dr. Hastirullah Fitrah (Rektor) & Dhieno Yudhistira, SH., MH. (Bidang & Kerja Sama).

​Universitas Terbuka Banjarmasin: Ir. Mochamad Priono, M.Si. (Direktur) & Rahmanianur Sari, S.Ak (Pengadministrasi Marketing & Kerja Sama).

​Universitas Borneo Lestari: apt. M. M. Alfiannor S., M.Farm. (Warek I) & Vebruati, S.S., M.Pd. (Kabid Kerja Sama).

Melalui kesepahaman awal ini, seluruh pihak optimis bahwa sinergi antara regulasi pemerintah dan kapasitas akademik kampus akan mampu menciptakan lompatan besar dalam mewujudkan sistem tata kelola pekerja migran yang tidak hanya profesional, tetapi juga aman, komprehensif, dan bermartabat.

(Adista)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!