SAMPIT – Wakil Ketua Komisi III DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) Riskon Fabiansyah menyebut momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) menjadi perhatian bersama terhadap persoalan pendidikan di Kotim yang masih memiliki banyak pekerjaan rumah, terutama terkait sarana dan prasarana sekolah.
Menurutnya, persoalan utama yang sejak dulu masih menjadi masalah klasik adalah sarana dan prasarana pendidikan yang belum merata.
“Persoalan utamanya tentu pertama yang dari dulu masalah klasik adalah sarana dan prasarana karena sampai saat ini pemerintah daerah masih membutuhkan atensi perhatian anggaran dari pemerintah pusat melalui dana revitalisasi,” kata Riskon, Selasa 12 Mei 2026.
Politisi Golkar ini menyampaikan, tahun ini dana revitalisasi untuk pendidikan masih minim. Sementara di lapangan masih ditemukan sekolah di wilayah kelurahan dan desa yang belum pernah tersentuh anggaran pembangunan.
“Masih ada juga kita temukan sekolah yang ada di daerah kelurahan desa kita yang dari zaman Indonesia merdeka belum pernah tersentuh anggaran, itu PR pertama,” ujarnya.
Selain itu, Riskon juga menyoroti persoalan pemenuhan tenaga pendidik di Kotim yang dinilai belum merata di seluruh satuan pendidikan.
“Kedua terkait pemenuhan tenaga pendidik, sampai saat ini kita masih belum bisa memenuhi pemerataan tenaga pendidik di satuan pendidikan yang ada di Kabupaten Kotim,” ucapnnya.
Terkait angka putus sekolah, Riskon mengatakan berdasarkan rilis pemerintah kondisi di Kotim masih dalam tahap wajar untuk pendidikan 12 tahun. Namun ke depan tetap perlu evaluasi dan peningkatan dalam penyelenggaraan pendidikan.
Ia menilai kondisi sosial ekonomi masyarakat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi angka putus sekolah. Selain itu, kondisi sarana dan prasarana yang belum merata juga menjadi kendala, terutama karena topografi wilayah Kotim yang cukup luas.
“Topografi kita di Kabupaten Kotim berbeda dengan di Pulau Jawa, yang mungkin 10 sampai 15 menit sudah sampai sekolah. Kalau di Kotim bisa berkilo-kilo, jadi ini bisa jadi kendala para orang tua untuk mengantarkan anak-anaknya sekolah di daerah terpencil,” tandasnya. (Nardi)












