SAMPIT – Kondisi ruas jalan menuju Desa Tumbang Kalang, Kecamatan Antang Kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), kembali menjadi perhatian masyarakat. Saat hujan turun, sebagian badan jalan berubah menjadi lumpur sehingga menyulitkan kendaraan yang melintas.
Keluhan warga mencuat setelah beredarnya video di media sosial yang memperlihatkan sejumlah kendaraan bergerak perlahan di tengah jalan berlumpur. Pengendara terlihat harus ekstra hati-hati untuk menghindari kendaraan tergelincir atau terjebak di kubangan.
Salah seorang warga, Alwi, mengatakan kerusakan jalan tersebut sudah berlangsung cukup lama dan hingga kini belum mendapat penanganan permanen. Menurutnya, kondisi itu tidak hanya mengganggu mobilitas masyarakat, tetapi juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi warga.
“Kalau musim hujan memang sangat sulit dilalui. Kendaraan sering terjebak lumpur dan perjalanan menjadi jauh lebih lama,” ujarnya, Sabtu 13 Juni 2026.
Ia menjelaskan, jalan tersebut merupakan akses utama masyarakat untuk menuju maupun keluar dari Desa Tumbang Kalang. Karena itu, kerusakan yang terjadi sangat berpengaruh terhadap berbagai kegiatan sehari-hari.
Selain digunakan untuk transportasi warga, ruas jalan tersebut juga menjadi jalur pengangkutan hasil pertanian dan kebutuhan pokok masyarakat. Saat kondisi jalan memburuk, distribusi barang maupun hasil produksi warga ikut terganggu.
Persoalan yang paling dikhawatirkan adalah ketika terdapat warga yang membutuhkan penanganan medis darurat.
Kondisi jalan yang licin dan berlumpur dapat memperlambat proses evakuasi menuju fasilitas kesehatan.
“Kalau ada pasien yang harus segera dirujuk saat hujan, tentu sangat memprihatinkan karena akses jalannya tidak mudah dilalui,” katanya.
Ia menambahkan, masih terdapat sekitar 5,5 kilometer ruas jalan yang belum mendapatkan peningkatan berupa pengaspalan. Selama ini permukaan jalan hanya mengandalkan pengerasan menggunakan material latrit.
Namun material tersebut kini sudah menipis sehingga tidak lagi mampu menahan kondisi jalan saat diguyur hujan. Akibatnya, permukaan jalan kembali berubah menjadi lumpur yang menyulitkan pengguna jalan.
“Jalan ini masih berupa tanah dan belum beraspal. Latrit yang dulu digunakan juga sudah lama habis,” ungkapnya.
Warga berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap kondisi jalan tersebut. Perbaikan dinilai penting karena jalan itu merupakan urat nadi transportasi masyarakat di wilayah pedalaman Kotim.
Masyarakat menginginkan akses yang lebih layak agar kegiatan ekonomi, pendidikan, maupun pelayanan kesehatan dapat berjalan lancar tanpa terganggu kondisi cuaca. (Nardi)












