Karhutla Mulai Pengaruhi Kualitas Udara Kotim, Kelompok Rentan Diminta Waspada

IST/BERITASAMPIT - karhutla yang semakin marak terjadi mempengaruhi kualitas udara Kotim.

SAMPIT – Meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten (Kotim) mulai berdampak terhadap kualitas udara. Berdasarkan pemantauan Air Quality Index (AQI) dari web iqair.com pada Sabtu 25 Juli 2026 pukul 19.00 WIB, kualitas udara di Sampit berada pada angka 53 AQI US, yang masuk kategori sedang.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, mengatakan meski kondisi udara di Sampit masih berada pada kategori sedang, masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terutama mereka yang sensitif terhadap polusi udara.

“Namun, mungkin ada risiko bagi sebagian orang yang terpapar selama 24 jam, terutama mereka yang sangat sensitif terhadap polusi udara,” ujar Multazam.

Adapun kelompok rentan tersebut meliputi balita, anak-anak, ibu hamil, lansia, penyandang disabilitas, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan seperti asma dan penyakit paru kronis.

Kelompok ini disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kabut asap mulai meningkat dan menggunakan masker apabila kualitas udara terus memburuk.

Terlebih karena jumlah titik panas terus bertambah dan musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga September bahkan Oktober.

Multazam menyampaikan berdasarkan data Pusdalops BPBD Kotim, hingga saat ini tercatat 559 hotspot dengan total luasan lahan terbakar mencapai 192 hektare yang tersebar di berbagai kecamatan.

BPBD juga mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar agar jumlah titik api tidak terus bertambah dan kualitas udara tetap terjaga selama puncak musim kemarau.

Sementara itu diketahui indeks kualitas udara (AQI) dibagi dalam beberapa kategori. Nilai 0–50 masuk kategori baik, kualitas udara dinilai aman bagi seluruh masyarakat.

Nilai 51–100 termasuk kategori sedang, di mana kualitas udara masih dapat diterima, tetapi kelompok yang sensitif terhadap polusi udara berpotensi mengalami gangguan apabila terpapar dalam waktu lama.

Sementara itu 101–150 masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif, 151–200 tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, dan di atas 300 masuk kategori berbahaya, yang dapat menimbulkan dampak bagi seluruh masyarakat. (Nardi)


baca juga ...  RSUD Murjani Kembali Disorot, DPRD Kotim Desak Evaluasi Total Usai Pasien Meninggal Diduga Akibat Rujukan Lambat
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!