Bayi Meninggal Akibat Diare, DPRD Kotim Minta Penanganan Diperkuat dan Masyarakat Waspada

NARDI/BERITASAMPIT - Sekretaris Komisi III DPRD Kotim Langkap.

SAMPIT – Kasus diare di Kabupaten (Kotim) yang telah mencapai ribuan kasus sepanjang 2026 mendapat perhatian dari DPRD Kotim. Terlebih, empat bayi dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit tersebut.

Sekretaris Komisi III DPRD Kotim, Langkap, mengatakan kasus diare harus menjadi perhatian serius, terutama karena kelompok bayi dan balita sangat rentan mengalami dehidrasi yang dapat berujung fatal apabila terlambat mendapatkan penanganan.

“Kasus diare di Kotim sampai hari ini sudah ribuan kasus yang muncul. Dari ribuan kasus ini sudah ada korban jiwa, terutama di kalangan bayi balita yang sangat rentan,” kata Langkap, Selasa 28 Juli 2026.

Ia menduga meningkatnya risiko diare pada musim kemarau dapat berkaitan dengan ketersediaan dan kualitas air bersih. Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena masyarakat dapat menghadapi persoalan air bersih selama musim kemarau.

“Kalau sudah terjadi kenaikan kasus diare, apakah ini karena air bersih atau penyakit lain yang berhubungan. Tapi kalau kita lihat sekarang musim kemarau, kemungkinan lebih besarnya terjadi akibat krisis air bersih,” ujarnya.

Langkap mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dengan memastikan air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dalam kondisi bersih. Khusus air untuk konsumsi, masyarakat diminta memasaknya hingga mendidih sebelum diminum.

Hal tersebut sangat penting dilakukan terutama bagi keluarga yang memiliki bayi dan balita. Selain kebersihan air, kebersihan tangan orang yang menyiapkan makanan juga harus diperhatikan untuk mencegah terjadinya kontaminasi.

“Kontaminasi itu bukan hanya terjadi pada air, tetapi juga dari orang yang menyajikan makanan. Ibu atau keluarga yang mempunyai balita harus memastikan kebersihan tangan dan makanan yang diberikan,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak terlambat membawa bayi maupun balita ke fasilitas ketika mengalami gejala diare.

Apabila buang air besar sudah berulang dengan konsistensi cair, penanganan medis harus segera dilakukan untuk mencegah dehidrasi.

“Jangan sampai terlambat membawa, karena kalau terlambat dan terjadi dehidrasi, risikonya besar terhadap kematian, khususnya pada balita yang sangat rentan,” tegasnya.

Langkap juga meminta petugas meningkatkan pemantauan di wilayah yang telah ditemukan kasus kematian akibat diare, khususnya Kecamatan Teluk Sampit, Pulau Hanaut, dan Mentaya Hulu.

Menurutnya, penanganan cepat, tepat, dan akurat sangat penting untuk mencegah terjadinya korban jiwa lebih lanjut.

“Secara teoritis, di area ini tidak boleh ada yang meninggal apabila penanganannya cepat, tepat, dan akurat,” kata politisi Gerindra ini.

Ia meminta petugas tetap siaga dan memastikan pelayanan berjalan optimal, terutama selama musim kemarau yang dinilai meningkatkan risiko sejumlah penyakit termasuk diare dan ancaman infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). (Nardi)



baca juga ...  Warga Kelurahan Sper Minta Solusi Persuasif Atasi PETI
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!