PALANGKA RAYA – Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Tengah (Kalteng), Adi Soeseno, menegaskan Museum Balanga ke depan tidak hanya menjadi destinasi wisata budaya, tetapi juga dikembangkan sebagai pusat edukasi.
Pernyataan itu disampaikannya saat membuka Seminar Uang Logam Koleksi Museum Balanga Tahun 2026 di Museum Balanga, Palangka Raya, Rabu, 29 Juli 2026.
“Kami terus mendukung revitalisasi museum agar tidak hanya menjadi destinasi wisata budaya, tetapi juga berkembang sebagai pusat edukasi unggulan yang diminati masyarakat lokal maupun mancanegara,” ujarnya.
Adi mengatakan koleksi uang logam di Museum Balanga menjadi bukti jejak perdagangan, budaya, dan ekonomi masa lampau di Kalteng.
“Koleksi uang logam yang tersimpan di Museum Balanga merupakan bukti autentik rekam jejak jalur perdagangan, interaksi budaya antarbangsa, serta dinamika ekonomi masa lampau yang pernah berkembang di Kalteng,” katanya.
Menurut Adi, seminar tersebut bertujuan mengajak masyarakat memahami nilai sejarah di balik koleksi uang logam, bukan sekadar mengagumi bentuk fisiknya.
“Dengan seminar ini masyarakat tidak hanya melihat bentuk fisik uang logam yang tersimpan di Museum Balanga, tetapi juga memahami nilai sejarah yang terkandung di dalamnya,” ucapnya.
Ia menambahkan museum harus dipandang sebagai laboratorium peradaban sekaligus pusat informasi ilmiah yang hidup dan relevan dengan perkembangan zaman.
Adi juga mengajak para pendidik dan generasi muda mempelajari sejarah, menggali nilai-nilai kearifan lokal, serta mengembangkannya menjadi inovasi yang memperkuat identitas bangsa.
“Pelajari sejarahnya, ambil nilai-nilai kearifan lokalnya, dan transformasikan pengetahuan tersebut menjadi inovasi yang mampu memperkuat identitas kita sebagai bangsa yang besar, yang berakar pada semangat Bhinneka Tunggal Ika,” pesannya.
Untuk diketahui, seminar tersebut diikuti pelajar SMA/sederajat di Kota Palangka Raya dengan menghadirkan narasumber Uria Nanyu Lujen, Yemina Yulita, Sukarti, dan Rudi Waluyo.
(Sya'ban)











