SAMPIT – Aktivitas pelangsiran BBM jenis Pertalite kembali dikeluhkan masyarakat di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Sejumlah pelangsir diduga menggunakan mobil pribadi untuk mengisi BBM subsidi secara berulang, sehingga menyebabkan antrean panjang di sejumlah SPBU.
Ketua Aliansi Pemuda Kotim, Anton Al Sudani, mengatakan praktik pelangsiran Pertalite kini kembali marak. Berbeda dengan sebelumnya yang diduga menggunakan kendaraan dengan tangki modifikasi, saat ini para pelangsir disebut memanfaatkan mobil pribadi untuk mengisi BBM secara berulang.
“Jadi mereka pakai mobil pribadi. Hari ini mengisi sampai full tangki, besok datang lagi mengisi. Padahal normalnya mungkin dua sampai empat hari baru mengisi lagi. Ini orang-orangnya itu-itu saja yang memenuhi antrean di SPBU dalam kota Sampit,” ujarnya, Kamis 30 Juli 2026.
Menurut Anton, kondisi tersebut sangat merugikan masyarakat yang membutuhkan BBM untuk keperluan sehari-hari.
Warga yang bekerja maupun orang tua yang harus mengantar anak ke sekolah terpaksa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengantre.
Ia meminta aparat penegak hukum melakukan tindakan tegas terhadap dugaan aktivitas pelangsiran tersebut. Selain itu, ia juga meminta pengawasan terhadap distribusi BBM subsidi di SPBU diperketat.
“Kasihan masyarakat yang bekerja dan yang harus mengantar anak sekolah. Mereka harus menghabiskan waktu untuk mengantre BBM. Kami meminta aparat menindak tegas jika memang ditemukan pelangsiran,” tegasnya.
Senada disampaikan warga lainnya Kurniawan yang kesulitan mengantre BBM pertalite karena antrean panjang disebabkan diduga oleh pelangsir.
“Beberapa waktu belakangan antrean panjang, bahkan sampai ke luar SPBU, sepertinya para pelangsir,” ujarnya.
Ia juga mempertanyakan pengawasan di tingkat SPBU. Menurutnya, jika kendaraan dan orang yang sama berulang kali mengisi BBM dalam waktu berdekatan, seharusnya aktivitas tersebut dapat terpantau.
“Tidak mungkin pihak SPBU tidak mengetahui kalau orangnya itu-itu saja yang mengisi BBM. Ini perlu diawasi,” katanya.
Kurniawan menilai pola operasional pembukaan layanan Pertalite di sejumlah SPBU yang tidak bersamaan juga berpotensi dimanfaatkan oleh pelangsir untuk berpindah dari satu SPBU ke SPBU lainnya.
“Misalnya Pertalite buka di titik A, mereka mengisi di sana. Kemudian ketika layanan di titik lain buka, mereka bisa berpindah ke SPBU B untuk mengisi lagi. Kalau pembukaan layanan Pertalite dilakukan secara bersamaan, ruang gerak mereka akan lebih sulit,” jelasnya.
Ia berharap pihak terkait dapat melakukan evaluasi terhadap sistem penyaluran BBM subsidi di Sampit. Menurutnya, pengawasan yang lebih ketat diperlukan agar BBM subsidi benar-benar diterima masyarakat yang membutuhkan dan tidak dimanfaatkan untuk kepentingan mencari keuntungan pribadi.
“Jangan sampai masyarakat yang benar-benar membutuhkan BBM justru menjadi korban. Antrean panjang terus terjadi, sementara ada pihak yang diduga mengambil keuntungan dari BBM subsidi,” pungkasnya. (Nardi)












