PALANGKA RAYA – PT PLN (Persero) menargetkan perbaikan salah satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Asam-Asam di Kabupaten Tanah Laut, rampung dan kembali masuk ke sistem interkoneksi Kalimantan sekitar 25 Agustus 2026.
General Manager PT PLN (Persero) UID Kalselteng, Iwan Soelistijono, mengatakan gangguan generator PLTU Asam-Asam menjadi satu dari tiga penyebab berkurangnya pasokan daya pada sistem interkoneksi Kalimantan.
Selain PLTU Asam-Asam, gangguan juga terjadi akibat kebocoran pipa boiler pada salah satu unit PLTU PT SKS Listrik Kalimantan (SLK) di Kabupaten Gunung Mas, serta gangguan sistem pelumasan turbin di PLTU PT Tanjung Power Indonesia (TPI) di Tabalong.
“Kondisi tersebut berdampak pada terbatasnya pasokan listrik di sebagian wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah,” ujarnya saat jumpa pers di Istana Isen Mulang, Palangka Raya, Kamis, 30 Juli 2026.
Iwan menjelaskan, salah satu unit PLTU TPI berkapasitas 100 megawatt (MW) telah kembali beroperasi dan masuk ke sistem interkoneksi Kalimantan sejak 28 Juli 2026.
Hal itu membuat durasi rata-rata pemadaman bergilir berkurang dari sekitar enam jam menjadi tiga jam.
Selanjutnya, pemulihan salah satu unit PLTU SLK di Gunung Mas yang memiliki daya mampu 100 MW ditargetkan selesai pada 5 Agustus 2026.
Setelah pembangkit tersebut kembali beroperasi, pemadaman bergilir diperkirakan tidak lagi terjadi, meski sistem kelistrikan masih berstatus siaga karena cadangan daya belum sepenuhnya pulih.
“Jadi maksudnya siaga itu tidak ada padam, tapi cadangannya masih kecil untuk percepatan pemulihan sistem secara keseluruhan agar berada dalam kondisi normal,” katanya.
Menurut Iwan, PLN terus mempercepat proses perbaikan PLTU Asam-Asam agar cadangan daya sistem interkoneksi Kalimantan kembali memadai.
“Dengan cadangan daya yang cukup, PLN terus mempercepat proses perbaikan pada unit PLTU Asam-Asam dengan target selesai dan masuk dalam sistem sekitar 25 Agustus 2026,” pungkasnya.
(Sya'ban)












