Personel Satgas Banyak Kelelahan, Harus Bekerja 14-16 Jam Tangani Karhutla di Kotim

IST/BERITASAMPIT - Kathutla yang terjadi di Kotim.

SAMPIT – Tingginya intensitas penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) mulai berdampak terhadap kondisi personel di lapangan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Timur (Kotim) mencatat sejumlah petugas harus mengambil waktu istirahat setelah bekerja belasan jam dalam sehari.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengatakan, dalam sehari terdapat sekitar dua hingga tiga personel yang meminta izin untuk beristirahat karena kelelahan setelah bertugas pada hari sebelumnya.

“Dalam sehari itu bisa dua sampai tiga orang yang izin, yang mana hari sebelumnya dia bertugas, hari berikutnya dia minta untuk istirahat,” ujar Multazam, Selasa 18 Agustus 2026.

Menurutnya, durasi kerja petugas di lapangan tidak jarang mencapai 14 hingga 16 jam. Kondisi tersebut bukan karena adanya paksaan, melainkan karena situasi kebakaran yang harus segera ditangani agar tidak meluas dan menimbulkan kerugian lebih besar. Sebagian juga ada yang senang bekerja, menjadi amal ibadah dan ada juga yang menjadi bagian rutin dalam bekerja.

“Bekerja tidak sembilan jam, 10 jam, tapi bisa di 14 sampai 16 jam. Tetapi itu bukan kita memaksa personel, memang situasi lapangannya harus kita tangani,” katanya.

Multazam mengatakan, apabila kebakaran tidak segera ditangani, api dapat merembet dan mengancam harta benda masyarakat. Karena itu, petugas tetap berupaya melakukan penanganan meski kondisi fisik mulai terkuras.

Ia menilai kerugian akibat Karhutla bukan sekadar kerusakan lahan, tetapi juga dapat mengganggu penghidupan masyarakat. Salah satunya ketika kebun masyarakat ikut terbakar.

“Kami juga mendengar soal kebun masyarakat yang terbakar, ada 200 batang, ada 300 batang yang umur dua tahun masih. Tentu kan mereka sedih melihat kebun yang mereka tanam dengan effort yang luar biasa,” tuturnya.

BPBD bahkan mengakui tidak seluruh laporan yang masuk dapat dipenuhi. Pada 17 Agustus lalu, terdapat sejumlah permintaan penanganan yang tidak dapat dijangkau petugas.

“Kami minta maaf ke mereka. Bahkan kalau mereka lapor menggunakan layanan call center kami, kami sampaikan kami minta maaf,” ungkap Multazam.

BPBD memiliki tim Satgas khusus sebagai pasukan cadangan. Tim tersebut diharapkan dapat mengambil alih ketika kondisi personel utama mulai menurun.

“Kami punya backup yang cukup handal dan punya strategi yang kuat, sehingga penanganan itu lebih efektif,” jelasnya.

Menurut Multazam, keberadaan tim cadangan menjadi penting apabila puncak Karhutla terjadi pada September mendatang. Petugas harus mampu menjaga stamina dan kesiapan dalam menghadapi periode panjang penanganan kebakaran.

“Kalau September ini adalah bulan puncaknya, paling tidak kita hampir 40 hari harus mampu bertahan,” katanya.

Untuk menjaga kondisi personel, BPBD juga akan meningkatkan dukungan berupa asupan gizi, vitamin serta kebutuhan penunjang lainnya. Hal tersebut sejalan dengan arahan Bupati Kotim Halikinnor saat meninjau posko Karhutla.

Multazam berharap anggaran yang diajukan untuk mendukung penanganan tanggap darurat dapat segera diproses sehingga kebutuhan petugas dapat dipenuhi. (Nardi)

baca juga ...  Pemkab Kotim Sambut Danyon Satbrimob Baru, Harapkan Sinergitas Semakin Meningkat
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!