Bunda PAUD Kotim Dorong Anak Kenal Budaya Dayak Lewat Buku

NARDI/BERITASAMPIT - Bunda PAUD Kotim Khairiah Halikinnor bersama Ketua IGTKI Kotim Ros Ermawati dan Kabid PAUD Disdik Kotim.

SAMPIT – Keprihatinan terhadap masih minimnya pengenalan budaya Dayak di kalangan anak usia dini mendorong Bunda PAUD Kabupaten (Kotim), Hj. Khairiah Halikinnor, bersama Ketua IGTKI Kotim Ros Ermawati menyusun buku Aku Cinta Budaya Dayak.

Khairiah mengatakan, ide penyusunan buku tersebut berawal dari beberapa kali kunjungan ke sejumlah sekolah, khususnya taman kanak-kanak (TK) di Kotim. Dari kunjungan tersebut, pihaknya melihat masih banyak anak yang belum mengenal budaya Dayak secara baik.

“Awalnya kami beberapa kali meninjau ke sekolah, khususnya di TK-TK. Mereka belum begitu mengenal budaya Dayak. Jadi kami berinisiatif untuk menciptakan buku ini, Aku Cinta Budaya Dayak,” ujar Khairiah.

Buku tersebut memuat berbagai materi mengenai budaya Dayak yang dekat dengan kehidupan anak. Diantaranya salam khas Dayak, pakaian daerah, makanan khas, sejarah serta sejumlah pengetahuan terkait budaya adat Dayak.

Khairiah menjelaskan, buku itu nantinya menjadi salah satu referensi pembelajaran bagi anak-anak TK di seluruh Kabupaten Kotim. Buku tersebut juga akan dibagikan agar semakin banyak anak mengenal budaya daerahnya sejak dini.

“Selama ini mereka tidak terlalu mengenal seperti makanan, baju, salam. Nah, itu kami cakup di dalam buku ini,” katanya.

Ia berharap generasi muda Kotim ke depan memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap budaya Dayak.

“Jadi kalau ditanya apa budaya Dayak, mereka bisa menjelaskan. Dari makanan, pakaian dan segala macam mereka sudah tahu,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua IGTKI Kotim Ros Ermawati mengatakan penyusunan buku tersebut juga menjadi upaya menjadikan digitalisasi sebagai sarana untuk menjaga keberadaan budaya lokal di tengah perkembangan zaman.

Menurutnya, perkembangan teknologi tidak seharusnya membuat budaya semakin tergerus. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai jembatan untuk membuat budaya lokal lebih dikenal dan mudah dipelajari.

“Digitalisasi itu menjadi jembatan emas yang nantinya akan memajukan budaya kita. Jadi budaya kita nanti akan tersimpan dengan sangat baik, akan lebih hidup dan bisa tersebar sehingga orang-orang mengenal,” kata Ros.

Buku tersebut juga dikembangkan dengan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan anak usia dini.

Ros mengungkapkan, proses penyusunan hingga buku tersebut terbit membutuhkan waktu sekitar sembilan bulan. Prosesnya diawali dengan menentukan materi pokok yang penting dikenalkan kepada anak, kemudian dikembangkan menjadi materi pembelajaran yang sederhana dan mudah dipahami.

“Jadi kami bersama Bunda memikirkan dulu ide-ide pokoknya, lalu mengembangkan sesuai dengan kebutuhan anak usia dini,” ujarnya.

Ia berharap buku Aku Cinta Budaya Dayak dapat menjadi salah satu media untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap budaya lokal sekaligus menjaga budaya Dayak agar tetap dikenal generasi berikutnya. (Nardi)


baca juga ...  Buku Aku Cinta Budaya Dayak Tiga Bahasa Diperkenalkan untuk Anak PAUD Kotim
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!