Penulis: Maman Wiharja (Jurnalis Senior di Kalteng)
KAMIS, 23 Juli 2026, merupakan hari yang bersejarah bagi Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) khususnya dan umumnya bagi masyarakat Kalteng, karena di hari itu Gubernur Kalteng H. Agustiar Sabran melakukan pemancangan tiang perdana“, dimulainya pembangunan “Huma Betang“, yang bernuansa arsitektur tradisional dan modern, terbesar di Asia. Pembangunan Huma Betang adalah salah satu maha karya brilian H. Agustiar Sabran.
Pengamatan penulis, terinspirasi disaat H. Agustiar Sabran sedang tugas kerja ke berbagai daerah atau saat menghadiri acara serimonial khusus yang melibatkan berbagai kalangan organisasi dan warga masyarakat, termasuk disaat kampanye Pilkada 2024. H. Agustiar Sabran sebagai Calon Gubernur Kalteng yang berpasangan dengan H. Edy Pratowo, pengamatan penulis disaat kampanyenya di Pangkalan Bun, sempat pula mengupas tentang janjinya untuk mensejahterakan masyarakat Kalteng, melalui program ‘Huma Betang‘.
Singkatnya, program “Huma Betang“ yang lajunya tentu dengan bertahap menyesuaikan anggaran per- APBD, Sekarang sebagian sudah menyentuh kepada warga masyarakat.
Jadi terkait dengan pembangunan Huma Betang, salah satunya untuk melanjutkan program Huma Betang yang terus berkelanjutan sesuai dengan falsafah Rumah Betang, yang mengajarkan kita tentang hidup bersama dalam perbedaan, menjunjung tinggi toleransi, gotong royong, dan persatuan dalam keberagaman.
Rumah Betang = simbol kebersamaan, toleransi, dan persatuan masyarakat Kalteng yang majemuk, tapi kehidupannya penuh dengan martabat dan beradab.
Gubernur H. Agustiar Sabran, juga mengatakan bahwa landasan moral budaya Dayak yang telah diwariskan, tujuannya Membangun Kalimantan Tengah dengan karakter yang kuat, budaya yang luhur, dan masyarakat yang berakhlak mulia, untuk mewujudkan Program Huma Betang sampai tahun 2029.

Bangunan Huma Betang sendiri, lanjut Gubernur bukan sekedar bangunan fisik atau rumah adat suku Dayak, tetapi merupakan simbol filosofi kehidupan masyarakat Kalimantan Tengah yang menjunjung tinggi keberagaman, kebersamaan, toleransi, serta semangat gotong royong atau belom bahadat.
“Huma Betang ini rumah besar, rumah adat leluhur kita. Filosofinya adalah keberagaman, kebersamaan, toleransi, dan belom bahadat atau semangat gotong royong yang ada di dalamnya. Pembangunan Huma Betang dilahan sekitar luas 5 hektar, menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas budaya Dayak sekaligus menjaga warisan leluhur agar tetap dikenal oleh generasi mendatang. Harapannya kedepan , generasi di Provinsi Kalteng jangan sampai tidak punya landasan, tidak punya sejarah, khususnya para leluhur di Kalimantan Tengah, yang sejak dulu turun temurun telah mewariskan bahwa rumah betang diisi oleh puluhan keluarga,” kata Agustiar.
Dan sekarang, Huma Betang yang mulai dibangun harus menjadi rumah besar bagi seluruh masyarakat Kalteng, sebagai tempat bertemunya budaya, persatuan, dan semangat membangun Kalimantan Tengah. (Bersambung)












