PALANGKA RAYA – Menjelang Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Palangka Raya 2024, sejumlah pasangan calon (Paslon) mulai gencar menebar janji kepada masyarakat. Namun, hingga kini, masih banyak yang meragukan apakah janji-janji tersebut benar-benar bisa direalisasikan, mengingat visi dan misi yang mereka tawarkan belum begitu jelas dan konkret untuk jangka waktu lima tahun ke depan.
Pengamat politik sekaligus dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Palangka Raya (UPR), Ricky Zulfauzan, mengungkapkan kekhawatirannya mengenai langkah para Paslon yang dinilai terlalu dini dalam berkampanye.
Menurut Ricky, waktu kampanye resmi yang ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum dimulai, sehingga promosi visi misi yang dilakukan saat ini dianggap prematur.
“Terlalu pagi kampanye, karena sesuai jadwal Komisi Pemilihan Umum (KPU), tahapan kampanye Pilkada Kalteng baru akan dimulai pada 25 September hingga 23 November 2024,” ujar Ricky kepada Berita Sampit saat diwawancarai usai menghadiri acara Focus Group Discussion (FGD) tentang peran dan posisi pemuda dalam mensukseskan Pilkada 2024 di Kalimantan Tengah, di Swiss-BellHotel Danum, Palangka Raya, Rabu 11 September 2024.
Ricky menambahkan, daripada fokus melakukan kampanye sejak dini, para Paslon Pilwalkot Palangka Raya sebaiknya mempersiapkan visi misi yang lebih matang dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Visi misi tersebut harus disusun dengan baik agar ketika memasuki masa kampanye resmi, mereka sudah siap mempresentasikan program-program yang realistis dan dapat dilaksanakan ketika terpilih nanti.
“Sampai saat ini saya belum melihat adanya visi misi yang konkret dari para kandidat. Harapannya, sebelum masuk ke tahapan kampanye, visi misi dari setiap Paslon sudah lebih matang dan fokus pada program-program yang dapat dijalankan selama lima tahun ke depan,” ungkap Ricky.
Menurutnya, visi misi yang baik adalah yang terukur, realistis, dan memiliki skala prioritas yang jelas. Ia menegaskan, visi misi yang hanya berisi janji tanpa landasan yang kuat tidak akan menarik perhatian pemilih rasional.
“Jadi visi misi yang baik menurut saya, bukan hanya berisi janji-janji atau lip service belaka. Tetapi visi misi yang baik adalah yang dapat dilaksanakan dan memberikan dampak nyata ketika menjabat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ricky menjelaskan bahwa masyarakat sebagai pemilih harus lebih cerdas dalam memilih calon pemimpin. Salah satu indikator pemilih yang cerdas atau rasional adalah dengan melihat dan mempertimbangkan visi misi yang diajukan oleh para calon.
“Indikator memilih pemimpin yang baik adalah melihat visi misinya terlebih dahulu. Ketika pemilih mampu mengevaluasi dan menilai program kerja dari calon pemimpin dengan objektif, maka mereka termasuk dalam kategori pemilih rasional,”imbuhnya.
Ricky juga mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada janji-janji kampanye yang hanya sekadar menarik perhatian tanpa ada realisasi yang nyata.
“Masyarakat harus jeli dalam memilih. Jangan hanya terbuai dengan janji-janji yang tampak manis di permukaan. Kita harus memilih berdasarkan program-program yang memang bisa dilaksanakan dan memiliki dampak positif bagi pembangunan Palangka Raya,”tegasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam pembangunan kota ke depan.
Menurutnya, pemimpin yang terpilih nantinya harus mampu bekerja sama dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk pemuda, untuk mendorong pembangunan yang berkelanjutan.
“Peran pemuda juga sangat penting dalam proses pembangunan. Pemimpin ke depan harus bisa berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemuda, agar pembangunan di Palangka Raya bisa lebih cepat dan efektif,” jelasnya.
(Sya’ban)











