JAKARTA – Sekretaris Fraksi Golkar DPR RI Mukhtarudin mendorong berkembangnya dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja di sektor industri makanan dan minuman tanah air.
Yakni, kata Mukhtarudin, dengan melakukan pelatihan kerja atau training kepada karyawan sesuai dengan keahlian dan kemampuan mereka.
Politisi Dapil Kalimantan Tengah ini menegaskan bahwa sektor industri makanan dan minuman (mamin) merupakan sektor strategis dan diharapkan akan menopang pertumbuhan perekonomian Indonesia dalam lima tahun mendatang.
“Ya, sektor IKM mamin ini perlu diprioritaskan guna mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen yang ditargetkan Presiden Prabowo Subianto,” imbuh Mukhtarudin, Kamis Mukhtarudin, Kamis 21 November 2024.
Mukhtarudin menilai sektor industri makanan dan minuman ini juga tak merasa terbebani dengan adanya deflasi selama empat bulan terakhir.
“Subsektor ini justru mencatatkan kontribusi sebesar 40,33 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas pada triwulan II-2024,” beber Mukhtarudin.
Menurut Mukhtarudin, kunci untuk meningkatkan daya saing di tengah persaingan industri makanan dan minuman yang kian menjamur yakni kreativitas dan inovasi.
Untuk itu, Anggota Komisi XII DPR RI ini pun selalu mendukung Kementerian Perindustrian agar berupaya meningkatkan kesiapan industri makanan dan minuman bertransformasi menuju industri 4.0.
Mengingat, lanjut Mukhtarudin, sektor Industri tersebut adalah prioritas karena perannya yang penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan potensial untuk diakselerasi lebih jauh lagi melalui penerapan industri 4.0.
“Sehingga memiliki daya saing melalui penerapan teknologi digital dan inovasi baik produksi, distribusi, dan pemasaran produknya,” pungkas Mukhtarudin.
Industri Mamin RI Moncer
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut industri makanan dan minuman (Mamin) berperan penting menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Hal ini terlihat dari kontribusinya pada triwulan I-2024 yang mencapai 39,91% terhadap PDB industri non-migas, dan 6,97% terhadap PDB nasional.
Agus menyebut pada triwulan I-2024, industri Mamin tumbuh 5,87% (YoY). Di sisi ekspor nilainya mencapai US$ 14,73 miliar atau sekitar Rp 237,15 triliun (kurs Rp 16.100) pada periode Januari-Mei 2024, sementara impor sebesar US$ 7,27 miliar.
“Sehingga sektor industri makanan dan minuman masih melanjutkan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 7,46 miliar,” kata Menperin.
Agus mengatakan investasi di sektor ini juga semakin tumbuh dan diminati investor. Ini terlihat dari perkembangan realisasi investasi yang mencapai Rp 26,08 triliun pada triwulan I-2024.
Agus menyebut Indonesia dikaruniai keragaman sumber daya hayati melimpah seperti kopi, teh, buah, dan kakao.
“Saat ini potensi tersebut telah dikembangkan oleh industri pengolahan dalam negeri dengan meningkatkan nilai tambah berorientasi ekspor,” pungkas Menperin Agus.
(Adista)











