Strategi Pemadaman Karhutla Selain Menggunakan Air, Optimalisasi Metode Grounding Tanah dan Pasir

Ilustrasi Kang Maman

Penulis: Maman Wiharja (Jurnalis Senior di Kobar)

FAKTOR utama kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sulit dipadamkan lantaran terbatasnya persediaan air, termasuk banyak titik api yang sulit dijangkau kendaran roda empat dan slang air yang panjangnya terbatas.

Dari awal munculnya titik api kemudian dalam kegiatan pemadaman karhutla, pengamatan penulis, api yang berkobar disemprot air pakai slang dan sesekali menggunakan Helikopter Water Bombing. Tapi hasilnya belum maksimal karena karhutla sampai sekarang masih membara.

Walhasil, selain metode pemadaman dengan air, penanganan karhutla khususnya  diwilayah gambut tentunya memerlukan pendekatan mekanis, antara lain menggunakan tanah atau pasir adalah salah satu teknik pemadaman tradisional yang diiktiraf oleh pakar pertanian dan keselamatan sangat efektif untuk memadamkan karhutla.

Sementara sejumlah ‘opsi’ yakni dari Akademis, menurut Pakar Gambut Universitas Palangkaraya Prof. Suwido Limin, pemadaman karhutla di lahan gambut tidak bisa hanya mengandalkan air. Titik panas harus ditutup rapat dengan tanah basah untuk memutus suplai oksigen.

Dikutip dari Pakar Gambut dari Universitas Palangkaraya – CIMTROP UPR Prof. Dr. Ir. Suwido H. Limin, M.Sc. “Di gambut, air saja tidak cukup. Harus ditutup dengan tanah basah untuk isolasi oksigen. Ini prinsip dasar pemadaman bara gambut”.

Dr. Gusti Anshari Pakar Gambut UPR, Ketua Tim Ahli BRG sering menjelaskan teknik menutup titik panas dengan tanah di pelatihan relawan karhutla Kalteng.

Sementara opsi lainnya dari  Pemerintah, Kepala BNPB menegaskan, selain penyiraman, teknik grounding atau penimbunan titik api dengan tanah dan pasir adalah metode utama untuk memastikan bara benar-benar padam.

Sedangkan praktisi Manggala Agni  Letkol. Inf. Yudo Pramono – Komandan Satgas Karhutla Manggala Agni mengatakan:  “Senjata kami selain selang air adalah cangkul dan tanah. Kami timbun titik panas sampai asapnya hilang”

baca juga ...  Gakkum LHK dan BKSDA 'Amankan' Pengusaha Ular Piton Ilegal

Melihat beberapa ‘opsi’ tersebut, pengamatan penulis, saat ini sudah saatnya semua pihak dari berbagai unsur untuk bersama-sama terjun kebeberapa lokasi titik api dengan membawa cangkul, sekop, dan alat lainnya membantu Tim Satgas Gabungan, yang nampak sudah cukup lelah berjibaku memadamkan karhutla.

“Adapun proses pemadaman menggunakan tanah atau pasir, antara lain kita semua masing-masing menyiapkan berbagai peralatan seperti cangkul, cangkul garpu, sekop dan sejenisnya”.

“Caranya kalau kita sudah sampai ke titik api, misal 2 atau 3 meter dimana tanah yang kita pijak, dengan menggunakan cangkul, sekop atau cangkul garpu langsung digali, bisa juga setelah digali langsung taburkan dengan cangkul atau sekop ketitik api”.

“Bisa juga tanah/pasir setelah dicangkul ditumpuk dulu kemudian menggunakan sekop, atau semacam sorok bambu atau ember, tumpukan tanah/pasir langsung ditaburkan, dan yang paling mantap setelah titik api diseprot ait oleh Satgas, langsung ditabur tanah. Agar titik api cepat padam, diusahakan satu petugas Satgas didampingi 4 atau 5 relawan, yang siap menyangkul tanah/pasir jaraknya sekitar 3 meter”.(*)

Bagikan:
Berita Populer