SAMPIT – Kabut asap kembali menyelimuti sejumlah kawasan di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Jumat 18 September 2026 pagi bahkan menjelang siang. Kondisi tersebut membuat jarak pandang terasa terganggu dan bau asap cukup menyengat.
Hingga lewat pukul 09.22 WIB, asap masih terlihat tebal dan bau menyengat belum juga ada tanda memudar. Kondisi ini membuat sebagian masyarakat memilih mengurangi aktivitas di luar rumah.
“Ngeri sekali, asapnya sudah jam 9 masih bau menyengat, biasanya hanya pagi,” kata salah seorang warga Baamang, Claudia.
Pantauan di sejumlah kawasan, sejumlah warga yang tetap beraktivitas di luar rumah terlihat sudah menggunakan masker. Sementara sebagian warga lainnya memilih menutup rapat pintu dan jendela rumah untuk mengurangi masuknya asap.
“Lebih baik tutup pintu rumah dan jendela kalau pekat begini baunya,” ujar warga lainnya, Ahmad Ilman.
Ia mengaku kondisi asap yang pekat membuat dirinya khawatir terhadap kesehatan, terutama anak-anak. Bau asap yang menyengat membuat aktivitas di dalam rumah pun terasa kurang nyaman.
Kondisi Jumat pagi ini berbeda dengan sehari sebelumnya. Pada Kamis 17 September 2026, hujan gerimis hingga ringan sempat mengguyur sejumlah wilayah Sampit, di antaranya Baamang dan Mentawa Baru Ketapang (MB Ketapang) yang membuat warga berharap karhutla bisa segera berakhir.
Hujan tersebut sempat membuat udara terasa lebih bersih dan jernih. Namun, sehari setelahnya, kabut asap kembali muncul dengan kondisi yang cukup pekat.
“Sepertinya karena hujan kemarin, sebagian api padam dan menyisakan asapnya saja,” kata Ilman.
Munculnya kembali kabut asap juga menjadi perhatian karena aktivitas sekolah masih berlangsung. Kondisi udara yang tidak sehat dikhawatirkan berdampak terhadap anak-anak yang harus berangkat dan mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Kotim, Riskon Fabiansyah, sebelumnya meminta pemerintah daerah mengambil langkah tegas terkait kegiatan belajar selama kondisi udara memburuk akibat karhutla.
Menurutnya, keputusan terkait pembelajaran jangan sepenuhnya diserahkan kepada masing-masing kepala sekolah. Pemkab Kotim dinilai perlu memberikan kebijakan yang jelas untuk melindungi peserta didik.
“Harapan kami pemerintah daerah benar-benar melihat kondisi di lapangan. Kalau udara sudah tidak sehat dan asap kembali pekat, jangan sampai kesehatan anak-anak menjadi taruhan,” ujarnya.
Ia mendorong Pemkab Kotim mempertimbangkan penerapan Belajar Dari Rumah (BDR) ketika kondisi kualitas udara memburuk, sehingga anak-anak tidak harus terpapar asap selama beraktivitas di sekolah. (Nardi)











