Oleh : Kang Maman (Wartawan Senior di Kobar)
TAHUN 2026, telah dicatat sebagai tahun yang terberat bagi seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), terlebih bagi Bupati, Wakil Bupati dan seluruh jajarannya. Karena di tahun 2026, kembali menguak sejarah lama, dimana musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terparah yang pernah melanda Kobar terjadi pada tahun 1997, 2015 dan 2019.
Sekarang, ditahun 2026 musibah karhutla sudah terjadi hampir 4 bulan (Juli s/d Oktober 2026). Lonjakan asap gambut saat ini nampaknya semakin besar menjadi gumpalan kabut asap yang diwarnai bau/aroma arang gambut yang sangat membahayakan paru-paru manusia , khususnya anak-anak, hal tersebut akibat turun hujan hanya sebentar (15-20 menit), dan semburan water bombing dirasakan masih kurang memadai untuk memadamkan bara api di dalam gambut .
Kepala Pelaksana BPBD Kobar Samuel, menuturkan kepada penulis rekam jejak tahun-tahun terjadinya karhutla paling parah di Kobar, yakni terjadi tahun 1997 yang merupakan bencana karhutla terdahsyat dalam sejarah. Karena dipicu oleh fenomena El Nino yang sangat kuat.
Hingga musibah karhutla menghanguskan sekitar 2 juta hektar lahan di Kalteng dan memicu kabut asap pekat lintas negara yang melumpuhkan aktivitas total selama berbulan-bulan, termasuk di Kobar hingga jarak pandang hanya tembua 5 sampai10 meter.
Memang benar, buktinya tahun 1979 dialami penulis saat mau mancing ke Danau Seluluk. Sesampainya dibelokan bantaran DAS Arut PT. Korindo perahu kelotok yang disewa penulis nyaris bertabrakan dengan Speedboat yang tiba-tiba muncul di depan perahu klotok, akhirnya pengemudi speed langsung membelokan speednya ke arah kanan, hal tersebut akibat kabut asap sangat tebal hanya tembus 5 sampai 10 meter.
Masih kata Samuel, tahun 2015 juga menjadi salah satu karhutla paling parah di era modern. Lahan gambut di Kobar kembali terbakar hebat hingga menghasilkan asap kuning pekat, bau h arang gambut terbakar yang berbahaya bagi pernapasan (ISPA) dan menghentikan seluruh jadwal penerbangan serta sekolah.
Tahun 2019, Kalteng raih rekor menjadi wilayah dengan luasan karhutla di lahan gambut terbesar di Indonesia (mencapai lebih dari 134 ribu hektar secara keseluruhan). Dampak kabut asapnya membuat kualitas udara masuk dalam kategori sangat berbahaya.
Tahun 2026, Kobar kembali dilanda lonjakan karhutla yang cukup parah, di mana wilayah Kobar telah mencatat kebakaran hutan yang meluas hingga ribuan hektare, terutama di area sepanjang ruas jalan Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama dan Kecamatan Kumai. Sehingga banyak warga Kobar, khususnya warga yang sudah sepuh menyebut kondisi karhutla di Kobar sekarang ini kembali akan mengulangi musibah tahun 1997, 2015, 2019.
Pengamatan penulis, musibah karhutla 2026 bukan hanya menghanguskan 27.562 Hektare lahan yang hangus terbakar, dan bukan hanya 52 ribu hektare Taman Nasional Tanjung Puting yang menghitam oleh kabut asap karhutla. Tetapi juga merenggut nyawa dua relawan MPA , yang gugur jadi Pahlawan saat berjibaku memadamkan karhutla. Dia adalah Ahmadin alias Itam Madin dari Mendawai, Aries Sutio dari Kotawaringin Lama.
Kedua almarhum gugur karena sesak napas dan kelelahan setelah berjibaku digarda paling depan di lapangan, yang penuh dengan titik api.
Pengamatan penulis, di tengah duka cukup mendalam yang diwarnai kabut asap yang semakin tebal, kita melihat satu pemandangan yang jarang dilihat di daerah lain di Kalteng.
Adalah, Hj. Nurhidayah, satu-satunya ,”Srikandi” yang menjadi Bupati Kobar di Kalimantan Tengah. Demi marwah menyelamatkan Kabupaten Kobar yang mulai dilanda karhutla.
Disela – sela kesibukannya memimpin rapat, menerima tamu, membuka acara pelepasan, dan banyak lagi acara seremonial lainnya. Beliau yang sering disapa ” Bunda ” tidak hanya memerintah dari balik meja, atau merintah melalui Ponsel (HP). Tapi sejak munculnya karhutla di Kobar, beliau telah memberanikan diri menjadi “Komandan” Pasukan Satgas Karhutla yang terdiri dari Gabungan SatgasTNI-Polri, BNPB, BPBD, Balai TNTP, Manggala Agni. Pol PP, Ampi, dan Para Relawan lainya.
Pengamatan penulis, Alhamdullilah beliau diberi kesehatan oleh Allah SWT, sehingga sejak munculnya karhutla sampai sekarang hampir 4 bulan, Bunda “Srikandi”, nampaknya tak kenal lelah, disetiap kegiatan memadamkan atau meninjau karhutla sampai mau blusukan, masuk hutan alang-alang dan mendekati titik api gambut yang menyala. Bahkan saat ada kunjungan kerja Menhut RI ke Balai TNTP dan Taman Nasional Tanjung Putting, Bupati tampak super sibuk mendampingi Menhut ikut blusukan di tengah hutan alang-alang TNTP.
Tiga hari kemudian, Bupati Hj. Nurhidayah kembali meninjau langsung ke hutan TNTP melalui Tanjung Harapan mempergunakan Kapal Wisata dan nginap satu malam di hutan TNTP, kemudian meninjau Dapur Umum, terus ke Posko di Teluk Pulai, Sungai Bulu, dan menggelar rapat hingga dini hari bersama BNPB, TNI-Polri, Manggala Agni dan 160 personel gabungan.
Pengamatan penulis, hanya satu di Kalteng Bupati perempuan yang mau tidur di dalam kawasan TNTP yang asapnya mengandung zat (PM2,5 nya 512 ng/m³), yang jarak pandangnya sekitar 200 meter. Giat Hj. Nurhidayah tersebut tentunya bukan sebagai pencitraan, tapi untuk menunjukkan empati dari seorang Bunda bagi daerahnya yang berjuluk “Bumi Marunting Batu Aji ” (Bumi Menuju Kejayaan).
Disamping itu, Bupati juga konsistensi menjaga marwah Kobar, karena Kobar adalah rumah bagi 242 ribu hektare hutan dan Taman Nasional Tanjung Puting rumah Orangutan .
Di saat 71 orangutan harus dievakuasi dan ratusan satwa liar lainnya mulai terancam akibat terdampak karhutla, Bupati Kobar Hj. Nurhidayah tetap berteriak ke Pemerintah Pusat.
“Tolong kami,…jangan anggap remeh asap Karhutl di Kobar”. Itulah yang membuat akhirnya 6 helikopter water bombing, yang semula mencurahkan 16 kali water bombing ke TNTP meningkat jadi 21 kali, dan bersama kedatangan Menhut Raja Juli Antoni ke Kobar, alat operasi modifikasi cuaca dikirim untuk menyelamatkan Kobar, khususnya menyelamatkan ratusan satwa liar, terutama Orangutan karena hutan TNTP sudah menjadi habitat Orangutan yang nyaris punah di dunia.
Srikandi Bunda Hj. Nurhidayah pengamatan penulis telah membuktikan, di saat Bupati laki-laki lain di Kalteng, mungkin ragu masuk hutan, tapi beliau berani nginap di TNTP. Itu namanya modal sosial yang mahal.
Harapan penulis sekarang, APBD 2027 tolong diprioritaskan membangun embung-embung di Kumai, di Wilayah TNTP , Arut Utara, Kotawaringin Lama dan Pangkalan Banteng.
Kemudian memberikan BPJS Ketenagakerjaan atau insentif layak untuk semua MPA dan relawan Huma Singgah Itah. Dan kedepan jangan sampai ada lagi “Itam Madin”, berikutnya yang gugur tanpa perlindungan.
Karhutla 2026 adalah duka kita bersama. Tapi di balik asap tebal, kita melihat ada Srikandi yang tidak lari.
Kita sekarang jangan saling menyalahkan, tapi harus bisa mengawal dan memberi masukan positif, agar di tahun depan keberanian Bupati Kobar bisa dilengkapi dengan sistem pencegahan yang lebih tangguh.
Selamat berjuang, Bu Hj. Nurhidayah. Kobar membutuhkan Srikandi yang tangguh dan tidak hanya berani di hutan, tapi juga harus berani membenahi sistem ke arah yang kebih baik. SEMOGA.(*)










