Kebakaran Lahan Sawit Jadi Pelajaran, Pakar Dorong Limbah Diolah Jadi Biochar

IST/BERITASAMPIT - Pakar gambut dan pertanian berbasis carbon farming, Dr Joni, dari SMA Muhammadiyah Sampit.

SAMPIT – Kebakaran lahan perkebunan kelapa sawit milik perusahaan besar swasta (PBS) di Kabupaten Seruyan dinilai menjadi pelajaran penting dalam pengelolaan lingkungan, khususnya di kawasan perkebunan dan lahan gambut.

Pakar gambut dan pertanian berbasis carbon farming, Dr Joni, dari SMA Muhammadiyah Sampit, menilai peristiwa tersebut harus menjadi bahan evaluasi bagi pengelola perkebunan agar kejadian serupa tidak kembali terulang pada musim kemarau mendatang.

Menurutnya, pelajaran dari kebakaran tersebut sangat mahal. Karena itu, perlu ada perubahan dalam pengelolaan limbah perkebunan, terutama sisa biomassa kelapa sawit yang selama ini ditempatkan di jalur mati atau area tertentu hingga mengalami proses dekomposisi.

Padahal, limbah biomassa tersebut masih memiliki nilai guna apabila diolah dengan teknologi yang tepat. Di antaranya menjadi biochar atau arang hayati, arang aktif, asap cair hingga pupuk cair yang dapat dimanfaatkan kembali untuk kegiatan pertanian.

“Jadi, limbah dari pertanian bisa kembali lagi ke pertanian, bukan hanya ditempatkan di jalur mati hingga terdekomposisi dan berpotensi menghasilkan gas yang membahayakan kelestarian lingkungan,” ujarnya, Jumat 30 Oktober 2026.

Dia menjelaskan, penerapan teknologi carbon farming saat ini sudah diuji dalam kegiatan pertanian, termasuk yang diaplikasikan SMA Muhammadiyah Sampit pada lahan gambut.

Meski pada 2024 penerapan tersebut dinilai juri dalam lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) belum memenuhi kriteria teknologi tepat guna, menurutnya, hasil penerapan langsung di lapangan menunjukkan manfaat, salah satunya dalam upaya mencegah kebakaran lahan gambut.

Joni juga menilai kondisi lahan yang mudah terbakar perlu dilihat dari kandungan karbon organik atau fixed carbon di dalamnya. Menurutnya, kawasan hutan, gambut maupun perkebunan dengan kondisi tanah yang kurang mendukung penyimpanan karbon dan kelembapan berpotensi lebih rentan terbakar ketika memasuki musim kemarau.

Karena itu, upaya pencegahan harus menjadi prioritas dibandingkan hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah terlanjur meluas. Sebab, penanganan kebakaran membutuhkan biaya besar, peralatan memadai serta tenaga ekstra.

Selain membantu menjaga kandungan karbon tanah, sistem pertanian berbasis carbon farming juga dinilai mampu meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan air.

“Sekarang ini menjadi momentum untuk melihat dan membandingkan kondisi lahan yang menerapkan teknologi tersebut dengan lahan yang belum menerapkannya,” jelasnya.

Dia berharap, pengalaman dari kebakaran perkebunan di Seruyan dapat menjadi evaluasi bagi perusahaan maupun pemangku kepentingan dalam memperbaiki tata kelola perkebunan, khususnya pemanfaatan limbah biomassa dan penerapan pertanian berkelanjutan.

Dengan demikian, pencegahan kebakaran tidak hanya dilakukan melalui kesiapsiagaan pemadaman, tetapi juga dimulai dari perbaikan kondisi lahan dan pengelolaan lingkungan sejak dini. (Nardi)

baca juga ...  Polres Kotim Gencarkan Patroli Skala Besar Jaga Kamtibmas
Bagikan:
Berita Populer