SAMPIT – Masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) diminta lebih berhati-hati dalam memanfaatkan air hujan yang turun selama pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim mengingatkan agar air hujan, khususnya pada awal turunnya hujan, tidak langsung dikonsumsi sebagai air minum.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul hujan dengan intensitas cukup deras yang mengguyur sejumlah wilayah Kotim, termasuk Kota Sampit, selama dua hari berturut-turut.
Kepala Dinkes Kotim Umar Kaderi mengatakan, pihaknya memperoleh informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa hujan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir berkaitan dengan pelaksanaan OMC.
Dalam proses modifikasi cuaca tersebut digunakan bahan berupa garam untuk membantu proses pembentukan hujan. Karena itu, masyarakat diminta tidak terburu-buru memanfaatkan air hujan sebagai sumber air minum.
“Kita dapat informasi dari BMKG bahwa sudah beberapa hari ini merupakan hujan yang juga ikut dipengaruhi dari operasi modifikasi cuaca. Karena yang dimodifikasi itu menggunakan garam, saran kami, pada awal hujan-hujan ini hindari air minum yang bersumber dari air hujan,” kata Umar. Jumat 30 Oktober 2026.
Selain itu, air hujan pada periode awal juga dikhawatirkan membawa partikel debu dan polutan yang sebelumnya berada di udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Menurut Umar, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat, terutama mereka yang memiliki masalah kesehatan tertentu. Penderita hipertensi maupun gangguan ginjal diminta lebih waspada terhadap potensi dampak yang dapat ditimbulkan.
“Dampaknya sebenarnya tidak terlalu signifikan, cuma bagi orang yang punya hipertensi, tensinya akan meningkat. Kalau misalnya ada gangguan ginjal, itu bisa memperparah,” ujarnya.
Di sisi lain, hujan yang mengguyur Sampit membawa perubahan terhadap kondisi lingkungan setelah beberapa bulan wilayah tersebut diselimuti kabut asap karhutla. Kepekatan asap mulai berkurang dan udara terasa lebih segar dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Berdasarkan pemantauan BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, jarak pandang di wilayah Sampit juga berangsur membaik setelah hujan turun. Bahkan, pada pukul 10.00 WIB, jarak pandang tercatat mencapai sekitar lima kilometer.
Meski demikian, perbaikan kondisi secara kasatmata tersebut belum sepenuhnya tercermin pada kualitas udara. Berdasarkan pemantauan melalui aplikasi ISPU Net, kualitas udara di Kotim masih berada dalam kategori berbahaya.
Masyarakat pun diimbau tetap memperhatikan kondisi kesehatan dan mengurangi paparan udara luar apabila k ualitas udara belum menunjukkan perbaikan. (Nardi)











