Viral Diduga Meteor Melintasi Kota Kasongan, Ini Penjelasan Ilmiah Tentang Meteor?

KASONGAN – Video penampakan sebuah cahaya yang diduga meteor di Kota Kasongan viral di medsos, video yang berdurasi sekitar 20 detik itu terjadi sekitar pukul 18.17 Wib, usai salat magrib. Selasa, 7/05/2019 malam.

Penampakan cahaya itu diduga kuat sebagai fenomena alam yang disebut dengan meteor Eta Akuarid, hal ini seperti dilansir CNN.com yang menjelaskan awal Ramadan tahun ini langit akan dihiasi hujan meteor Eta Akuarid.

Ilustrasi
Ilustrasi

Sejarah Singkat Hujan Meteor Eta Aquarids

Seperti komet Halley, Eta Aquarids berada di orbit retrograde yang mengelilingi matahari. Jejak tersebut ditinggalkan di dekat Bumi, sehingga menghasilkan meteor yang terlihat relatif cepat bergerak sekitar 66 kilometer per detik.

Hujan meteor Eta Aquarid juga tampaknya adalah fenomena kuno yang kejadiannya bisa dihitung pakai jari, yaitu dalam kisaran 2.000-3.000 tahun.

Selain itu, tampaknya juga ada periodisitas 11 tahun untuk Eta Aquarids, mungkin disebabkan oleh gangguan gravitasi pada aliran yang disebabkan oleh planet Jupiter.

Eta Aquarids adalah salah satu dari sedikit hujan meteor besar dengan pancaran –paling jelas– yang terletak di belahan Bumi selatan. Posisi paling pas untuk menyaksikan Eta Aquarids adalah Right Ascension 22 jam, 20 menit, Deklinasi -1 derajat selatan.

Jika diamati dari Indonesia, pada puncak hujan meteor akan ada 20 hingga 40 meter per jam yang melintasi langit. Bumi belahan selatan bisa melihat hingga 60 meteor per jam pada puncak hujan meteor. Sementara Bumi belahan utara pada puncak hujan meteor hanya bisa mengamati 30 meteor per jam.

Bulan sabit tipis akan tampak terbenam di awal malam dan membuat langit tampak lebih gelap. Untuk mengamatinya, pastikan Anda berada di lokasi yang gelap dan minim polusi cahaya.

baca juga ...  Maret 2019 Kalteng Alami Deflasi Sebesar 0,02 Persen

Mengutip Earthsky, meteor-meteor pada hujan meteor Eta Akuarid berasal dari debris yang ditinggalkan komet Halley. Setiap tahunnya, Bumi melintasi jalur bekas orbit komet Halley pada 17 April hingga 24 Mei sehingga membuat serpihan komet masuk ke atmosfer Bumi sebagai meteor.

Saat mendekati matahari, sebuah komet bisa menguat dan meninggalkan jejak debu dan batuan di sepanjang jalur orbit yang dilewati. Puing-puing komet menabrak atmosfer teratas Bumi dengan kecepatan hampir 240 ribu kilometer per jam.

Sumber: cnnindonesia.com

(Lna.Beritasampit.co.id)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!