PALANGKA RAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) melaporkan bahwa pada tahun 2024, ekonomi Kalteng tumbuh sebesar 4,46 persen. Meskipun ada peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya tercatat 4,14 persen, angka ini masih jauh di bawah capaian pertumbuhan pada tahun 2022, yang mencapai 6,45 persen.
Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti, mengungkapkan bahwa meski pemulihan ekonomi pasca-pandemi COVID-19 berjalan, laju pertumbuhannya mengalami penurunan sejak tahun 2023.
“Pada tahun 2019, saat pandemi melanda, banyak sektor ekonomi yang tidak berjalan normal. Namun, tahun 2020 pertumbuhan mulai kembali, dan pada 2022 ekonomi sudah kembali seperti sebelum pandemi. Sayangnya, pada 2023 pertumbuhan melambat akibat berbagai faktor, terutama kebijakan nasional terkait ekspor,” ujar Agnes dalam konferensi pers di Ruang Vicon BPS Kalteng, Rabu 5 Februari 2025.
Menurutnya, faktor utama yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi Kalteng adalah sektor pertambangan dan industri pengolahan kelapa sawit.
Pada 2023, kebijakan pemerintah pusat yang membatasi ekspor komoditas tertentu sempat memperlambat pertumbuhan ekonomi daerah.
Namun, pada 2024, kondisi tersebut mulai membaik seiring dengan pelonggaran kebijakan dan stabilisasi harga komoditas global.
“Tahun 2024 ini sudah mulai kembali normal. Kita lihat pertumbuhan positif, meski belum setinggi 2022. Ke depan, harapannya ada upaya diversifikasi ekonomi agar Kalteng tidak hanya bergantung pada pertambangan dan sawit,” tambahnya.
Pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat sektor lain seperti pertanian, pariwisata, dan industri kreatif guna meningkatkan daya saing ekonomi.
Selain itu, investasi di bidang infrastruktur juga dinilai berperan penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil dan berkelanjutan di masa depan.
(Sya'ban)












