SAMPIT – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencatat sebanyak 3.852 kasus diare hingga pekan ke-28 tahun 2026. Dari jumlah tersebut, empat bayi dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kotim, Nugroho Kuncoro Yudho, mengatakan empat kasus kematian tersebut masing-masing terjadi satu kasus di Kecamatan Teluk Sampit, satu kasus di Kecamatan Pulau Hanaut, dan dua kasus di Kecamatan Mentaya Hulu.
Kasus kematian tersebut terjadi pada awal 2026, sebelum memasuki musim kemarau. Berdasarkan dugaan sementara, kondisi tersebut berkaitan dengan makanan yang terkontaminasi bakteri.
Jumlah kasus diare tahun ini juga mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama pada 2025. Pada periode tersebut, Dinkes Kotim mencatat sebanyak 3.687 kasus.
“Memang ada peningkatan walaupun tidak signifikan, tetapi tetap kami waspadai karena dibandingkan beberapa waktu lalu jumlah kasusnya mengalami kenaikan,” kata Nugroho, Kamis 23 Juli 2026.
Tren peningkatan kasus juga terlihat dalam beberapa pekan terakhir. Pada pekan ke-26 tercatat sebanyak 112 kasus, kemudian meningkat menjadi 136 kasus pada pekan ke-27. Angka tersebut kembali naik menjadi 155 kasus pada pekan ke-28.
Nugroho menjelaskan, diare perlu mendapat penanganan cepat karena dapat menyebabkan dehidrasi dalam waktu singkat. Kondisi tersebut berisiko fatal apabila penderita terlambat mendapatkan penggantian cairan dan penanganan medis.
“Diare ini sifatnya cepat. Kalau terlambat penanganannya, terlambat pemberian cairan, pasien bisa mengalami dehidrasi. Kalau dehidrasi sudah berat dan terlambat ditangani, risikonya bisa meninggal dunia,” jelasnya.
Ia menambahkan, seluruh kelompok usia dapat terserang diare. Namun, bayi dan balita menjadi kelompok yang paling rentan karena lebih cepat mengalami dehidrasi ketika kehilangan banyak cairan.
“Pada bayi dan balita lebih berbahaya karena mereka biasanya tidak mau makan atau minum saat sakit sehingga lebih cepat mengalami kekurangan cairan,” ujarnya.
Dinkes Kotim mengimbau masyarakat segera membawa penderita ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami diare tiga kali atau lebih dalam waktu singkat.
Sembari menunggu penanganan medis, penderita juga dianjurkan mendapatkan cairan pengganti, seperti oralit atau larutan gula garam, untuk mencegah terjadinya dehidrasi. (Nardi)












